Monday, July 2, 2018

Setengah Empat Pagi


Setengah empat pagi. Lobby hotel sudah sepi, hanya terlihat seorang petugas resepsionis yang berjaga. 

Saya baru menekan tombol angka lantai tempat kamar ketika terdengar suara seseorang berlari-lari kecil menyongsong lift yang mulai menutup. Tepat waktu dia menahan pintu sehingga terbuka kembali.  Seorang lelaki dan perempuan. Kelihatannya si lelaki sedang mabuk berat, jalannya  sempoyongan dan menguarkan bau alkohol, sedang si perempuan terlihat agak gelisah.


Lift naik perlahan-lahan.

“Tadi lupa nggak ke Indomaret”, si perempuan tiba-tiba memecah keheningan.

“Mau beli, apa?”, sahut si laki-laki.

Kondom. Mereka pasti lupa beli kondom, pikir saya. Apalagi coba kalau bukan kondom yang menjadi hasil penjumlahan dari: setengah empat pagi, mabuk, dan kamar hotel?

“Lupa mau beli pembalut”, jawab si perempuan dengan agak malu-malu.

Dari pantulan cermin di pintu lift saya bisa melihat perubahan air muka si lelaki menjadi muram. Dia kecewa.


”Ting!!”

Pintu lift terbuka, dengan sedikit permisi agar diberi jalan, saya keluar. Masih ada paling tidak tiga lantai lagi yang akan mereka tandaskan dengan kecanggungan.

Setengah empat lebih empat menit pagi, saya tak bisa menahan untuk tidak menyunggingkan senyum di sepanjang koridor menuju kamar.

Monday, February 19, 2018

Review Buku "Keretakan dan Ketegangan"


Judul : Keretakan dan Ketegangan

Penulis : Achdiat Karta Mihardja

Penerbit : Balai Pustaka

Tahun : 1994



Siapa yang tak tahu roman Atheis? Roman yang paragrafnya sering dikutip sebagai soal cerita di pelajaran Bahasa Indonesia SMA. Masih dari penulis yang sama, Achdiat K. Mihardja, Keretakan dan Ketegangan berisi 12 cerita pendek yang berbeda tema.

Achdiat memang ahli dalam bercerita soal konflik batin manusia, jika dalam Atheis digambarkan bagaimana pertarungan dalam nurani Hasan, pemuda dari keluarga alim yang ‘belajar’ meninggalkan tuhan, dalam kumpulan cerita ini ada berbagai macam lagi.

Beberapa cerita dituturkan dengan alur bolak-balik sehingga kita bisa lebih dalam menyelami alam pikiran masing-masing tokohnya, seperti misal Martini yang tersandera dalan hubungan terlarang yang akhirnya harus mengambil jalan tak terbayangkan, atau Sudiro yang berjibaku antara nafsu dan akal sehatnya di dalam gubuk kumuh di pinggiran Jakarta.

Kumpulan cerita ini pernah mendapat penghargaan sastra BMKN tahun 1957. Agak susah mencari buku ini yang masih dalam keadaan baik karena memang terbitan lama.

Review Buku "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"


Judul : Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu
Penulis : Mahfud Ikhwan
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun : 2017


Ini adalah novel ajaib. Saya bilang ajaib karena hanya dengan 180 halaman, novel ini bisa membawa kita pada beberapa emosi secara mendalam sekaligus, tidak serba tanggung.  Bahagia, sedih, tegang, was-was, jengkel, dan marah datang bergantian dengan porsinya masing-masing.

Secara umum, novel ini bercerita tentang Mat Dawuk, seorang yang digambarkan mempunyai paras dan nasib yang teramat buruk. Hal itu yang membuat Mat Dawuk menjadi olok-olokan di seantero desanya, Rumbuk Randu. Kehidupan Mat Dawuk pun berubah ketika dia menikah dengan Inayatun, seorang kembang desa yang ditemuinya ketika merantau ke Malaysia. Pernikahannya dengan Inayatun ini yang akan mengungkap beberapa rahasia masa lalu Rumbuk Randu.

Membaca novel ini, sedikit mengingatkan saya pada beberapa karya Eka Kurniawan yang sudah saya tandaskan sebelumnya, teknik bertutur yang unik dan dibumbui dengan kejadian-kejadian di luar nalar semakin membuat saya ingin cepat-cepat melahap kalimat per kalimatnya namun juga pada saat yang sama, saya juga merasa eman-eman jika buru-buru mengkhatamkannya.

Setting yang mengambil tempat di pesisir utara Pulau Jawa menjadi nilai tambah tersendiri, mengingat saya juga tinggal di tempat yang relatif sama secara geografi dan demografi. Jadi, mengimajinasikan suasana hutan jati, desa pesisir yang kering, masyarakat, dan kehidupan sosialnya terasa mudah dan membuat semakin terhanyut dalam jalan cerita.


 

Monday, January 8, 2018

Review Buku "Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa"




Judul : Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : KPG
Tahun : 1999 (Cetakan Pertama)


Dimulai dari Geraldine, seorang warga Belanda yang ‘pulang’ ke Indonesia untuk mencari riwayat orang tuanya. Ayahnya adalah Tan Pen Liang, seorang warga keturunan Tionghoa, sedang ibunya adalah Nur Hayati alias Tinung, warga Betawi asli. Cerita kemudian mundur kembali pada tahun 1930-an ketika Tan Pen Liang dan Tinung baru berkenalan dan berbagai macam konflik yang menerpa mereka. Cerita tidak hanya berkutat soal Tan Pen Liang dan Tinung saja, tetapi ada tentang perselisihan antar pengusaha Tiongkok di tanah air, praktek korupsi pada jaman kolonial Belanda, sampai pergerakan menuju kemerdekaan dan perkembangan kehidupan warga Tionghoa pasca kemerdekaan republik.

Novel ini kental dengan budaya-budaya warga Tionghoa di tanah air, mulai dari bagaimana mereka melaksanakan perkawinan, apa yang diperbuat ketika ada sanak keluarga yang meninggal dan perayaan-perayaan seperti Peh Cun, dan Sin Cia atau tahun baru Imlek. Melalui novel ini pula kita mengerti bahwa tidak sedikit warga keturunan Tionghoa yang berjasa dan ikut berjuang memerdekakan Indonesia. Yang menarik, saya baru tahu kalau dialek dan logat medok Jawa-Cina yang biasa saya dengar diucapkan oleh ‘Cino Suroboyo’ sebenarnya sudah ada sejak ratusan lalu seperti kalau mengucapkan “nggak bisa” menjadi “ndak isa”, “di mana” menjadi “deh mana”, “cantik” menjadi “ciamik”, tambahan “o” di akhir kata kerja yang bermakna bersegeralah, seperti “makan-o” yang berarti segeralah makan, sisipan “thak” untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukan, dan banyak lagi lainnya.

Novel ditulis dengan bab-bab yang tidak terlalu panjang, karena memang awalnya dulu dimuat di koran Republika secara serial. Meskipun banyak sekali karakter yang diciptakan Remy Sylado dan kebanyakan bernama Cina sehingga bagi kita yang awam akan kesulitan menghapal, namun cerita dibuat mengalir dan sangat enak diikuti. Bagi yang menyukai sejarah, belajar sejarah melalui novel tentu pilihan yang tidak mungkin ditolak, jika pada Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer kita diajak menyusuri Surabaya di awal abad 20, di Ca Bau Kan kita berjalan-jalan di Batavia tempo dulu, termasuk Kali Jodo yang memang kondang sebagai tempat transaksi birahi sampai ditutup dan sempat ramai beberapa waktu yang lalu.

Soto

Soto penjaja kelling, biasa mangkal di depan kantor, Jl. Basuki Rahmat Gresik


Soto mungkin adalah famili kuliner dengan turunan spesies terbanyak, ada spesies Soto Ayam, Soto Kikil, Soto Madura, Soto Betawi, Coto Makassar, bahkan ada spesies hybrid, Rujak Soto dari Banyuwangi. Keberagaman spesies soto mungkin cuma bisa ditandingi oleh famili sate atau pecel. Namun, Soto Ayam masih berada di peringkat teratas di daftar makanan favorit saya. Saya memilih Soto Ayam karena dia adalah salah satu dari sedikit masakan yang bisa dinikmati di tiap sesi kegiatan makan, entah itu sarapan, makan siang, atau makan malam. Selain itu, bagi saya yang menganut mahzab nasi dan kuah soto dicampur, Soto Ayam benar-benar memberikan kedaulatan penuh pada penikmatnya untuk memilih cita rasa apa yang lebih ditonjolkan pada hidangan yang disantapnya, mau pedas ya tinggal tuang sambal yang banyak, mau agak kecut ya ambil dan peras saja jeruk nipis, mau manis atau asin ya tinggal sesuaikan volume kecapnya. 

Saking doyannya saya dengan Soto Ayam, saya pernah melakukan ritual tujuh kali makan siang dengan tujuh Soto Ayam dari tujuh penjual yang berbeda selama tujuh hari berturut-turut.

Tuesday, January 2, 2018

Review Buku "Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto"





Judul : Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto
Penulis : Salim Haji Said
Penerbit : Mizan
Tahun : 2016


Buku ini saya beli di Gramedia dengan menukarkan Telkomsel poin, delapan hari sebelum masa berlakunya habis. Memilih buku ini karena kembali tertarik dengan sosok Pak Harto, setelah melihat foto beliau dibingkai cukup besar di lobby Markas Komando Strategi Angkatan Darat (Makostrad) yang beberapa hari lalu saya kunjungi. Selain foto dalam bingkai, di sisi kiri pintu masuk juga ada kutipan dan relief Pak Harto dengan warna emas berukuran sangat besar. Sedangkan di sisi kanan terdapat kutipan dan relief Panglima Sudirman, juga dengan ukuran sangat besar dan warna senada. Wajar kalau Pak Harto begitu diagungkan, karena beliau adalah Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) pertama. 

Oke kembali ke buku, buku ini sebagian besar berisi analisis yang luar biasa dari Salim Haji Said, seorang wartawan cum akademisi. Analisis bagaimana strategi dan trik Soeharto melanggangkan kekuasaan selama lebih dari 30 tahun dengan cara memelihara konflik diantara bawahannya. 
Salim Haji Said yang memang dekat dengan lingkaran kekuasaan menghadirkan banyak narasi menarik yang tidak banyak diketahui banyak orang. Secara umum, buku ini dirangkai dari berbagai wawancara dengan orang-orang dekat Pak Harto baik dari kalangan sipil maupun militer, dan saya yakin sebagian besar dari wawancaranya adalah off the record pada masanya. 
Selain itu, buku ini banyak menghadirkan cerita menarik terkait figur Pak Harto, seperti bagaimana latar belakang pemberian gelar kehormatan "Jenderal Besar" pada tiga jenderal, Soedirman, Nasution, dan Soeharto. Buku ini juga mengungkap kenapa tidak ada satupun anak-anak Pak Harto yang menjadi tentara. 

Bagi yang tertarik dengan sejarah Orde Baru, buku ini layak dikoleksi.