Friday, November 17, 2017

Review Buku "Seorang Laki-Laki yang Keluar dari Rumah"





Judul : Seorang Laki - Laki yang Keluar dari Rumah
Penulis : Puthut EA
Penerbit : Buku Mojok
Tahun : 2017




"Anda bisa membaca novel ini dari setiap bab bernomor ganjil sampai tuntas baru kemudian membaca bab genap atau membaca novel ini sebagaimana lazimnya, dari awal sampai akhir"


Begitulah tulisan yang tercetak di sampul belakang novel ini, saya memilih yang disebut terakhir.

Cukup sulit mendeskripsikan jalan cerita di novel ini tanpa mengandung spoiler karena setiap adegan atau  percakapan yang ada di dalam cerita ini seolah-olah adalah potongan puzzle yang ditinggalkan oleh penulis untuk kita rangkai sendiri menjadi jalan cerita yang utuh. Secara garis besar, novel ini menceritakan tentang Pandu dan Budiman berikut konflik-konflik yang dialami keduanya, baik konflik asmara, keluarga, persahabatan atau pekerjaan.  Jalan cerita yang penuh twist adalah bumbu tersendiri yang membuat saya segera ingin menyelesaikan membaca novel ini, saya yakin ada rahasia besar yang terungkap akhir novel, dan ternyata  saya tidak salah.

Dengan bahasa yang ringan, novel ini terasa mengalir begitu lembut ketika dibaca, tidak ada rasa tergesa-gesa meskipun banyak adegan menegangkan yang disajikan.

Thursday, November 16, 2017

Review Buku "Sunan Ngeloco: Balada Cinta Trijoko & Sundari"





Judul : Sunan Ngeloco: Balada Cinta Trijoko dan Sundari
Penulis : Edi AH Iyubenu
Penerbit : BASABASI
Tahun : 2017



“Telek bebek!” , ”Asu!”, “Cocotmu!”

Jika merasa risih dengan umpatan-umpatan di atas lebih baik urungkan niat membeli atau membaca buku ini karena akan ada lusinan pisuhan-pisuhan lain di sepanjang novel 171 halaman ini. Dan lagi, yang tabu dengan bahasan onani, masturbasi, ya ... segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kelamin juga mending menghindari buku ini. Diberi label 18­+, tentu saja ceritanya tidak jauh-jauh dengan alat vital dan sekitarnya.


Bercerita tentang Trijoko, nama aslinya Gunawan Tri Atmojo, yang berusaha mendapatkan cinta Niken, yang kemudian mendapat panggilan Sundari karena alasan yang benar-benar di luar akal. Sundari adalah akronim Sun (dari bahasa Jawa yang artinya cium) Dada Kiri karena payudara kirinya berukuran lebih besar daripada yang kanan. Hubungan percintaan mereka tentu saja tidak mulus, mulai dari fase pedekate sudah banyak tantangan yang dihadapi Trijoko alias Gunawan. Beruntung Trijoko punya teman-teman yang setia membantunya mewujudkan keinginannya berpacaran dengan Niken alias Sundari. Klise memang, namun tidak seperti kebanyakan novel romansa picisan, akan ada banyak kekonyolan-kekonyolan sepanjang cerita.


Novel ini sebenarnya diangkat dari gabungan cerpen-cerpen di buku kumpulan cerpen Pelisaurus tulisan Gunawan Tri Atmojo (ya, namanya memang sama dengan tokoh di novel Sunan Ngeloco) yang sudah terbit lebih dahulu, namun membaca Sunan Ngeloco tanpa membaca Pelisaurus dahulu bukanlah suatu masalah besar, Edi AH Iyubenu dengan cerdas bisa menyampaikan ide cerita  tanpa berkurang sedikitpun kadar kelucuannya. Banyaknya peristiwa-peristiwa tak terbayangkan yang diceritakan dengan humor-humor segar beberapa kali membuat saya harus berhenti di tengah-tengah paragraf hanya untuk tertawa. Terakhir, jika anda-anda semua ingin memperkaya khazanah kosa kata umpatan dan teknik mengumpat yang baik dan benar, tentu novel ini patut untuk ditamatkan.



”Kebahagiaan itu seperti sempak yang kamu pakai. Orang lain hanya bisa menebak-nebak model dan warnanya. Tetap hanya kamu, Tuhan, dan pacar ganasssmu yang mengetahui wujud aslinya”

(Sunan Ngeloco, halaman 126)

Tuesday, October 31, 2017

Melihat Secara Berbeda Peristiwa 30 September 1965

29 September 2017


Hari-hari ini sedang ramai bahas kebangkitan PKI. bahkan ada pejabat yang bilang kalau PKI sudah punya 15 juta anggota. Panglima TNI beberapa waktu lalu menganjurkan agar film Penumapasan Pengkhianatan G30S/PKI diputar kembali, malah dianjurkan dibuat acara nonton bareng. Sepanjang orde baru, kita praktis hanya dijejali satu narasi tentang peristiwa tragis terbunuhnya tujuh jenderal angkatan darat di pagi buta tanggal 1 Oktober 1965, yakni oleh Partai Komunis Indonesia. Namun, pembantaian ratusan ribu bahkan jutaan orang, baik simpatisan PKI maupun mereka yang hanya dituduh tanpa bukti, yang menjadi kelanjutan peristiwa diatas tidak pernah menjadi perhatian, dan tidak pernah masuk kurikulum pendidikan sejarah di sekolah.



Kami akan memberi anjuran buku yang mungkin bisa dibaca agar kita mempunyai perspektif berbeda tentang salah satu fase paling penting dari sejarah bangsa ini:

  1. “Madiun 1948: PKI Bergerak”, perisitiwa pemberontakan Madiun, selain pemberontakan PKI tahun 1926 kepada pemerintah kolonial Belanda, seringkali menjadi dalih bahwa PKI memang kejam, membunuh dengan sadis para kyai di pesantren-pesantren. 
  2. “Palu Arit di Ladang Tebu”, membahas tentang bagaimana pembunuhan kepada simpatisan PKI pada akhir 1965 sampai awal 1966 bisa begitu massif, apa yang telah dilakukan para kader PKI sebelum September 1965 sehingga bisa menimbulkan kebencian yang ketika disulut sedikit saja bisa menjadi suatu huru-hara besar, dan siapa saja pelakunya. Nah, di buku ini dibahas konflik-konflik antara simpatisan PKI dengan masyarakat utamanya di daerah perkebunan yang banyak terdapat buruh-buruh pabrik tebu. 
  3. “Teror Subuh di Kanigoro”, peristiwa yang diceritakan di buku ini juga dimasukkan menjadi prolog film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI dimana digambarkan kalau para kader PKI berpakaian hitam-hitam masuk ke masjid tanpa melepas sepatu, menginjak-injak Al-Quran, dan membantai orang-orang di dalamnya. Ini kembali menjadi penggambaran kalau orang-orang PKI memang anti-agama. 
  4. “Dalih Pembunuhan Massal”, buku ini sempat dilarang oleh MA untuk diedarkan dan sekarang telah menjadi semacam buku babon tentang peristiwa 65 dan pembantaian setelahnya. Di buku ini dijelaskan secara mendetil dan runtut tentang apa saja yang terjadi dan melatarbelakangi juga menawarkan alternatif dalang pembunuhan para jenderal di akhir September. (lanjut di kolom komentar). 
  5. Novel “September” yang sempat menghilang dari peredaran pada masa Orde Baru karena meskipun diceritakan secara fiksi, namun tokoh-tokohnya berdasar para figur yang terlibat ketika pemberontakan 65. 
  6. “Kekerasan Budaya Pasca 1965”, menjelaskan bagaimana orde baru terus saja mempropagandakan anti-PKI melalui produk-produk budaya seperti sastra, dan film, termasuk film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI besutan Arifin C. Noer. 
  7. “Buku Putih Benturan NU-PKI 1948-1965” yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. NU dan Ansor seringkali dituduh bersama TNI menjadi pihak yang ikut andil membantai anggota PKI paska pemberontakan 65. Melalui buku ini NU menyampaikan bahwa konfliknya dengan PKI sebenarnya terlah terjadi sejak lama dan sangat kompleks, dan kyai-kyai NU banyak yang telah  menjadi korban kesewenang-wenangan PKI. 
  8. Terakhir adalah buku-buku yang  membahas tentang bagaimana orang-orang yang dituduh PKI didiskriminasi, dibunuh, disiksa, dipenjara tanpa pengadilan, dibuang ke pulau terpencil yang jauh, dan ada pula yang dicabut kewarganegaraannya sehingga tidak bisa pulang ke Indonesia. Selain mereka pribadi, keluarganya pun hidup dalam ketakutan, tidak punya peluang yang sama dengan orang lain dalam hal mencari pekerjaan dan semacamnya. Buku-buku yang bisa dibaca antara lain: "Suara di Balik Prahara" yang berisi berbagai macam testimoni korban kekerasan pasca peristiwa 65, "Diburu di Pulau Buru" dan "Memoar Pulau Buru" tulisan Hersri Setiawan, yang disebut terakhir juga sempat dibuat film. Lalu ada "Nyany Sunyi Seorang Bisu" karya Pramoedya Ananta Toer.

Sekali lagi, kami bukan berniat menghakimi salah satu pihak adalah korban, sedangkan pihak lainnya adalah pelaku. Sejarah bukannlah sesuatu yang hitam-putih, tidak ada orang yang 100% baik dan tidak ada pula orang yang mutlak jahat. Kondisi saat itu pun serba sulit, antara membunuh atau dibunuh. Semakin banyak kita belajar melalui berbagai macam sudut pandang akan memberikan gambaran lebih objektif tentang suatu hal sehingga kita bisa berlaku adil terhadap suatu perkara dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Saturday, October 15, 2016

(Mungkin) Manfaat (Lain) Ayat Kursi

Seorang wanita, teman dari teman, menceritakan hal yang menggelitik ketika kita duduk bersama satu meja di restoran. Si wanita mulai bercerita, "Minggu lalu aku di-booking bos, orangnya sudah tua, usianya mungkin lebih dari 60 tahun. Aku sebenernya udah ga feeling, tapi gimana lagi, duitnya banyak. Ya udah aku ikut aja, yang penting bisa buat tambahan beli susu anak." 

Dia berhenti sejenak, mulutnya sedang penuh nasi dan gurami bakar. Didorongnya makanan di mulut dengan es jeruk kelapa muda. Setelah semua makanan meluncur melewati tenggorokan, dia ambil nafas lalu lanjut bercerita, "Nyampe hotel, aku berdoa terus, aku baca ayat kursi, semoga aja setan tua itu hilang nafsunya dan aku ga jadi "dipake", lagian aku udah dapat duit lumayan. Eh ajaib, tiba-tiba bandot itu demam, akhirnya aku ga jadi "dipake", aku dianter pulang malem itu juga"

Dulu saya kira ayat kursi cuma ampuh buat mengusir jin dan setan tak kasat mata. Ironis sih, tapi sah-sah saja karena doa adalah hak setiap manusia. 

Thursday, July 7, 2016

Guyonan Template Ketika Lebaran

Jelang dan pasca Lebaran seperti sekarang ini bertebaran di media sosial berbagai macam guyonan tahunan, yang nggak pernah absen dan evergreen sih tentang kaleng biskuit Khong Guan yang sering berisi rengginang. Ada pula guyonan template tentang pertanyaan "kapan nikah?" beserta berbagai macam kiat-kiat untuk menghindarinya. 

Tapi sesungguhnya yang tersinggung ketika ditanya "kapan nikah?" oleh saudara waktu lebaran itu terlalu sentimentil, kebanyakan drama, dan keseringan nonton ftv. Alih-alih merasa disindir, anggap saja pertanyaan itu sebagai pujian. 
Maksudnya, jika ada yang tanya seperti itu artinya kita yang ditanya ini sudah dianggap mantap secara mental, matang secara usia kepribadian, mapan secara finansial untuk membina biduk rumah tangga, siap mengarungi bahtera keluarga. Jadi, dimana letak memalukannya?

 Lha yang nggak pernah ditanya itu yang mestinya khawatir. 

Saturday, March 5, 2016

Musik Folk

folk (n)
|fowk|
People in general (often used in the plural)
= common people, folks

Dalam bahasa Indonesia, folk artinya rakyat. Musik folk berarti musik rakyat. Disini, musik rakyat itu ya dangdut. Mulai hajat khitanan, nikahan, sampai kampanye politik tidak lepas dari dangdut. Mulai petani, buruh, mahasiswa, pegawai, sampai pejabat saya kira semua kenal dangdut. Dangdut lahir dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Apa itu Dialog Dini Hari, Stars & Rabbit dan Banda Neira?

Katanya ke-khas-an lagu-lagu folk ada pada liriknya yang sarat dengan keseharian dan kesederhanaan. 
Nah dangdut kurang sehari-hari apa? Coba resapi lirik lagu "SMS".
"Bang SMS siapa ini bang? Bang pesannya pake sayang-sayang"
Cuma tentang SMS, sesuatu yang kita tiap hari gunakan.

Kesederhanaannya? Coba teliti lirik lagu berjudul "Ngidam Pentol". 
"Aku pengen pentol seng enek endogè. Aku pengen pentol seng dobel endogè. Aku pengen pentol pentol pentol pentol endog. Seng akeh emi-ne."
Bercerita tentang seorang istri hamil yang kepingin makan pentol, kudapan murah dan bisa kita beli dimana saja, bukan tentang Cinnamon Roll atau Kue Muffin yang susah juga dicari kalau ngidamnya tengah malam. Entah pentol-seng-enek-endogè diintepretasikan macam-macam oleh pendengarnya, itu sudah menjadi tanggung jawab masing-masing. 
Dan masih banyak lagi lagu-lagu dangdut yang isinya sangat "down to Earth", sangat merakyat.

Jadi, OM Monata, OM New Pallapa, dan OM Sera bisa kita sebut kalau aliran musik mereka folk? 

Monday, February 1, 2016

(Masih) Belum Mau Nonton Sepakbola Eropa



Masih belum nemu serunya liga-liga sepakbola Eropa. Tim yang juara selalu itu-itu saja. Tim-tim besar, mau hancur-hancuran bagaimanapun di awal, selalu finish paling tidak di papan tengah pada akhirnya. 

Lain dong dengan Liga Indonesia, selain sepakbola, ada juga "bumbu" tarung bebas antar pemain, pemain-wasit, pemain-official, penonton-pemain di tengah pertandingan. 
Tim yang baru musim ini promosi punya peluang sama untuk bisa juara. Sama juga sebaliknya, tim yang musim ini juara, musim depan bisa saja terjun bebas degradasi ke level lebih rendah.

Setiap match di Liga Indonesia menyimpan "plot twist" yang tidak tertebak sampai peluit panjang berbunyi. Tim yang mendominasi 90 menit jalannya pertandingan belum tentu menang, di detik-detik akhir bisa saja ada pinalti "jadi-jadian". Inilah yang saya suka dari sepakbola Indonesia, seperti nonton film-film Christopher Nolan, sedangkan liga-liga bule itu nggak ada beda dengan FTV, bisa ditebak ending-nya.

Saya mau mulai nonton liga-liga sepakbola Eropa kalau Manchester United atau Arsenal degradasi atau mungkin ketika Palermo jadi juara Serie A.

Wednesday, December 2, 2015

Pentingnya Punya Teman yang Menyebalkan



Facebook
, twitter, Instagram, Line, Path, dan mungkin Blackberry Messengger. Beberapa dari kita punya semua akun dan teman disana, jumlahnya  ratusan orang, yang artinya ratusan sifat manusia yang berbeda. Ada yang menyenangkan, informatif, dan menghibur, tapi tidak sedikit juga yang menyebalkan. 

Beberapa yang menyebalkan (versi saya) misalnya seorang teman di Path yang setiap hari upload foto makanannya, lengkap mulai sarapan, makan siang, makan malam, kadang juga kudapannya tak lupa diupload sambil diberi caption seakan-akan merasa berdosa karena jadi gendut gara-gara kebanyakan makan. 

Atau mungkin seorang teman lain di instagram, yang baru pertama kali punya bayi, mulai anaknya masih merah sampai sekarang bisa berjalan, kita para follower "dipaksa" menjadi saksi tumbuh kembang buah hatinya. Bagaimana tidak, kalau setiap hari yang diunggah foto anaknya sedang minum susu, tidur, mandi, pergi jalan-jalan, pakai baju baru. Kita juga menjadi saksi ketika anaknya pertama kali mengucap "mama dan papa". 

Di facebook kita mungkin punya teman yang sering sekali mengirim undangan game, atau suka men-share berita-berita hoax yang tujuannya provokasi. Mudah mengetahuinya karena biasanya berita-berita semacam itu diberi judul bombastis, misal "Subhanallah!! Terungkap Kejahatan Yahudi bla bla bla..." atau "Allahu Akbar, Ternyata Amerika Dalang bla bla bla". 

Di twitter, ada yang kerjanya me-retweet akun yang sangat saya benci, akun ramalan bintang. Sialnya lagi beberapa orang melakukan retweet brutal sampai puluhan tweet yang di RT sekaligus. Mencemari timeline, kan? 

Atau di Blackberry Messengger ada yang lima menit sekali update Personal Message, dan yang di-update ya itu-itu saja, mengeluh, marah-marah, dan sedih. Suram sekali hidupnya, ya? 

Kemudian pasti banyak dari kalian yang bilang, "terserah mereka dong mau upload apa, daripada nyinyir, tinggal unfollow saja kan beres!".

Iya memang, tinggal sekali pencet saya bisa unfollow, unfriend, block, mute mereka. Tapi saya nggak mau. Karena berkat merekalah saya bisa tetap "waras".

Waras bagaimana? Jadi begini, karena saya tahu gimana sebalnya ketika mendapat notifikasi undangan game di facebook, saya nggak akan mengirim undangan game ke teman-teman saya di facebook, karena itu jelas bikin mereka kesal.
Karena saya tahu gimana mangkelnya ketika buka twitter  ternyata timeline isinya retween-an akun ramalan bintang, saya nggak akan me-retweet brutal akun-akun semacam itu, karena itu pasti bikin follower saya misuh-misuh. 
Karena saya tahu gimana jengkelnya ketika nge-check Recent Update di BBM ternyata isinya cuma orang mengeluh, saya nggak akan mengeluh banyak-banyak lewat Personal Message, karena tentu bikin saya dibenci Blackberry Messenger-mate saya. 

Mereka bagi saya pribadi adalah batas yang jelas antara yang baik dan yang buruk. 
Jadi, tidak selamanya punya teman yang--kata orang sekarang--alay itu merugikan, bukan?

Sunday, July 12, 2015

Keyakinan itu Kemaluan

Seperti yang sudah-sudah, bulan puasa stasiun TV berubah menjadi syariah, penyiar beritanya yang wanita berhijab, yang laki-laki berpeci. Program-programnya pun berubah menjadi Islami. Acara yang ‘kurang’ Islami di primetime digeser jam tayangnya, diganti kultum dan semacamnya. Jelang subuh yang biasanya tidak ada acara diisi dengan program andalan, demi rating.
Nah, ada satu acara yang mengganggu saya, semacam talk-show dengan narasumber para mualaf, orang yang baru masuk Islam. Nggak tahu ya, ini acara khusus Ramadhan apa sudah ada sejak bulan ‘biasa’ kemarin, karena saya jarang nonton TV. Di acara ini, narasumber bercerita bagaimana dia mendapat ‘hidayah’ hingga memutuskan masuk Islam.
Sebenarnya tidak ada masalah sih dengan acara semacam ini. Toh ini juga termasuk syiar Islam. Tapi kok agak nggak fair yah. Dengan model seperti ini kayak menunjukkan kalau keyakinan mereka sebelumnya seolah-olah ‘sesat’. Seakan-akan mereka baru dientas dari lembah hitam kegelapan, disiarkan TV nasional pula!. Sudah jelas kan agama Islam melarang pamer. Kalau selfie saja katanya disebut berpotensi takabbur, ujub, dan riya', apalagi yang seperti ini.  
Televisi memakai frekwensi publik, milik orang banyak, yang nonton juga heterogen, terus bagaimana dengan nasib lima agama lainnya, bukankah selain Islam masih ada lima keyakinan lain yang juga diakui oleh negara? Sakit hati nggak mereka yang agamanya ‘dilecehkan’?
Coba posisinya dibalik, bikin acara kesaksian mereka yang pindah agama dari Islam, saya yakin langsung digebukin ramai-ramai itu stasiun TV. Lagian, orang pindah agama kok pake disiarin TV. Buat apa? 
Sempat ramai kemarin ketika Lukman Sardi, aktor film itu, pindah dari Islam, bahkan ada yang bilang darahnya halal, dihukum mati saja. Dasarnya hadist nabi yang berbunyi “man baddala dinahu faqtuluhu” yang artinya, “barang siapa pindah agama, maka bunuhlah”. Terlepas dari ternyata hadist itu dla’if (lemah), masak sih Islam seseram itu?
Saya curiga, orang-orang yang marah ketika ada salah seorang pengikut agamanya pindah ke agama lain itu malah mereka sendiri yang sebenernya kurang PeDe dengan apa yang dianutnya. Takut keyakinannya dianggap kalah dan turun nilainya.
Harusnya kalau mereka benar-benar iman, mantap dengan agamanya, mau ribuan orang pindah dari agamanya ya mestinya tenang-tenang saja, tidak perlu merasa insecure.
Terakhir, punya keyakinan itu seperti punya kemaluan. Kalau kita laki-laki ya cukup bertindak, berpakaian layaknya laki-laki. Mau menunjukkan kelelakian kita kan nggak perlu juga sampai melambai-lambaikan penis kita di muka orang.

*terima kasih Sdri. Aura yang sudah membagi idenya.

Friday, June 26, 2015

Apple-to-Apple

Sedang ramai di televisi pemberitaan tentang Angeline, bocah 8 tahun yang ditemukan dikubur di bawah kandang ayam di rumah ibu tirinya. Disinyalir, Angeline dibunuh oleh pembantu dan ibu tiri Angeline. Berbagai spekulasi tentang motif pembunuhan bermunculan, ada yang bilang karena Angeline bakal mewarisi harta warisan ayah tirinya sehingga ibu dan kakak tirinya berusaha menyingkirkannya. Tapi, semua masih perkiraan. Kita biarkan saja bapak-bapak polisi bekerja menemukan siapa pembunuh Angeline dan latar belakang sebenernya pada kasus yang menghebohkan ini. 

Namun, saya kemarin menemukan meme di facebook yang membandingkan kematian Angeline seorang dengan kematian anak-anak kecil Suriah yang jumlahnya mungkin ribuan.


Tidak ada yang salah memang dengan meme diatas. Namun membandingkan Angeline dengan bocah-bocah Suriah sepertinya kurang pas. Meminjam istilah yang lagi nge-trend saat ini, perbandingannya tidak apple-to-apple, tidak setara. Tunggu dulu, bukannya saya tidak menghargai nyawa anak-anak Suriah, semua nyawa manusia sama, apalagi nyawa anak-anak tidak berdosa, siapapun yang merenggutnya pantas mendapat balasan setimpal. 

Namun, meminjam kalimat meme diatas,  "dunia seakan bersedih (lebay juga sih kalau pakai kata dunia, mestinya cukup Indonesia) kehilangan seorang Angeline", tapi tidak menghujat pembunuh anak-anak Suriah, saya kayaknya kok nggak sreg.

Ini sebenarnya bukan masalah nyawa seorang vs nyawa ribuan orang, ini tentang kedekatan. Kasus Angeline terjadi di Indonesia, dekat sekali dengan kita. Indonesia negara damai, tidak sedang terjadi konflik, tidak ada perang. Artinya, yang terjadi pada Angeline bisa juga terjadi pada sepupu kita, keponakan kita, tetangga kita, atau bahkan anak-anak kita. Oleh sebab itu kita seakan-akan heboh menanggapi kasus Angeline, setiap jam mudah kita temukan perkembangan beritanya. Itu adalah bentuk aware agar hal serupa tidak terjadi dan menimpa orang-orang terdekat kita.
Sedangkan di Suriah, negara tersebut sedang perang, rumah-rumah penduduk dibombardir membabi buta. Ribuan nyawa manusia tak berdosa melayang. Bukan hanya anak-anak, wanita dan orang-orang tua yang sebenarnya tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi di negara mereka juga menjadi korban. Jadi, sepertinya 'wajar' kalau ada anak-anak yang meninggal di daerah yang sedang berkonflik. 
Dan satu lagi, kita secara pribadi bisa mencegah kasus Angeline terulang. Misalnya kita bisa jadi lebih peka terhadap perubahan-perubahan perilaku orang terdekat, jika pada sebelumnya seorang anak terlihat ceria dan aktif, namun belakangan terlihat sering murung, kita patut mencari penyebabnya. Sedangkan untuk masalah konflik di Suriah, kita secara pribadi jelas tidak mungkin menghentikan pertikaian yang terjadi disana.

Seorang ustadz pernah bercerita, anak-anak yang belum baligh ketika meninggal akan menjadi wildan, pembawa air minum bagi orang tua mereka yang kepanasan di Padang Mahsyar. Semoga arwah anak-anak ini mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Aamiin.