Sunday, July 10, 2011
Memaksa Tuhan
Tadi malam kita ikut pengajian. Sesuatu yang sudah jarang kami lakukan. Sepanjang pengajian tidak ada hal yang istimewa. Pada akhir pengajian, Sang Pemimpin pengajian membacakan doa penutup dan para jamaah mengamini sebagai tanda "menyetujui" apa yang diminta Sang Pemimpin pada Tuhan. Kita mendengar dan melihat ada satu, dua, tiga, empat, lima orang melafadkan kata AMIN dengan keras, cenderung membentak. Seolah olah mereka memaksa Tuhan untuk mengabulkan do'a mereka. ANEH. LUCU.
Thursday, June 16, 2011
Gerhana Bulan Tadi Pagi
| 1:04 AM |
| 1:41 AM |
| 1:51 AM |
| 2:07 AM |
| 2:17 AM |
| 2:29 AM |
| 2:32 AM |
| 2:34 AM |
| 2:59 AM |
Fotonya diambil dari lapangan di depan rumah. Kita udah nunggu mulai jam 10 malam sama temen-temen kuliah yang emang ada rapat suksesi PEMILU Presiden BEM. Rumah kita emang sering dijadiin tempat ngumpul mereka. Minimal tiga kali seminggu.
Karena udara Gresik yang belakangan ini cukup dingin pas malam hari, akhirnya kita putusin untuk menenggak minuman beralkohol buat sedikit angetin badan.
Jam satu malam kita udah gelar karpet di tengah lapangan sambil bawa selimut dan bantal.
Yaaahh, karena keterbatasan lensa kamera yang kita punya, hasilnya nggak maksimal, tripodnya juga goyang gara-gara floor-nya ga rata. Tapi lumayanlah ada dokumentasi gerhana bulan paling lama dalam 100 tahun terakhir. Bisa buat cerita ke anak cucu.
Sayangnya, kita nggak sempet ngambil gambar pas detik-detik berakhirnya gerhana gara-gara ketiduran.
Sayangnya, kita nggak sempet ngambil gambar pas detik-detik berakhirnya gerhana gara-gara ketiduran.
Sunday, May 29, 2011
Monday, May 16, 2011
Akhirnya, Saya Tidak Lagi Pergi Ke Masjid
Saya menulis ini setelah membaca postingan di sebuah blog yag sangat inspiratif. Saya mengalami hal yang kurang lebih sama dengan yang ditulis di blog tersebut. Saya mengalami pergolakan dan kebimbangan akan Tuhan. Saya mengalami sebuah pertarungan batin yang mungkin lebih seru daripada yang ditulis di novel Atheis.
Saya lahir di keluarga yang pendidikan agamanya biasa-biasa saja. Tetapi, kedua orang tua saya telah berusaha memberikan tambahan pendidikan di sebuah tempat mengaji, tidak jauh dari rumah. Saya cukup rajin mengikuti pembelajaran disana meskipun tidak sampai lulus dan mendapatka ijasah karena jadwal mengaji berbenturan dengan jadwal sekolah. Di belakang rumah saya ada sebuah mesjid, atau bisa disebut musholla karena ukurannya tidak begitu besar. Hampir setiap maghrib saya melakukan sholat berjamaah disana. Setiap hari selasa malam, selepas Isya' selalu diadakan sholawatan yang diikuti anak-anak kampung, mulai dari yang SD sampai SMA. Beberapa orang dewasa menjadi "penggebuk" rebana. Anak-anak disini menyebut kegiatan itu sebagai Dziba'an . Kami melafadzkan Sholawat pada Rasulullah dengan berbagai macam aransemen, berbagai macam gubahan yang semakin menambah semangat kami. Itu semua kami lakukan semata-mata hanya sebagai bentuk cinta kami pada beliau, beliau yang telah banyak berjasa pada umat manusia. Yang paling ditunggu oleh anak-anak peserta Dziba'an adalah ketika acara selesai dan kita semua berebut makanan kecil yang sengaja dikirim oleh para tetangga. Walaupun makanannya sangat terbatas tetapi kita tidak segan-segan berbagi dengan teman yang lain. Suasana yang sangat menyenangkan menurut saya.
Ketika bulan puasa, keramaian di musholla kami bisa berlipat-lipat. Beberapa remaja secara bergantian setiap hari menjadi pendamping imam. Menjadi bilal untuk menghitung jumlah bilangan sholat Tarawih. Setelah sholat tarawih, anak-anak tidak akan langsung pulang kerumah. Beberapa bertadarus Al-Quran, yang lainnya bermain di halaman musholla. Ada yang bermain petak umpet, petasan, dan permainan sederhana lainnya. Agak malam, beberapa anak yang berumur belasan, termasuk saya melanjutkan tadarus Al-Quran sampai waktu sahur tiba. Satu malam kami bisa menghabiskan lima juz Alquran. Ketika salah satu teman bertadarus, yang lainnya kadang membaca buku yang ada di rak buku musholla. Cukup lengkap menurut saya untuk musholla sekecil itu. Ada buku Sejarah Hidup Muhammad, Biografi Malcom X, tabloid terbitan puluhan yang lalu dan buku pengetahuan agama lainnya. Mengesanakan sekali, membaca buku-buku yang menambah pengetahuan spiritual kami di musholla, pada malam bulan Ramadhan. Bahkan kadang kala kami mendebatkan masalah-masalah yang baru kami dapat dari buku tersebut dengan teman-teman lainnya.
Mendekati waktu sahur kami segera bergegas menyiapkan peralatan kami untuk membangunkan orang-orang kampung untuk segera sahur. Kami disini menyebutnya "kotek'an". Dengan alat musik seadanya kami berkeliling melantunkan pujian, sholawat dan nyanyian-nyanyian religius lainnya. Ada beberapa orang yang langsung keluar rumah untuk "memberitahukan" bahwa mereaka sudah bangun. Dua kali berkeliling sudah membuat kami yakin kalau semua orang kampung sudah bangun dari tidur mereka. Setelah itu, kami pulang kerumah untuk sahur dirumah masing-masing. Tidur, lalu bersiap untuk hal yang sama esok malam.
Hal itu saya lakukan selama sebulan penuh. Jadi, malam bulan Ramadhan saya habiskan di musholla. Sebulan penuh tanpa pernah tidur di rumah sama sekali. Rasanya ingin setiap bulan adalah bulan Ramadhan.
Malam Lebaran kami tidak lagi tadarus, tapi melantunkan takbir. Takbir yang terus menerus dilantunkan sampai menjelang subuh tiba di kota kami. Di sela-sela lantunan takbir, kami juga membantu bapak-bapak Amil Zakat untuk menyalurkan zakat yang telah dikumpulkan dan membaginya pada orang-orang sekitar yang sekiranya membutuhkan.
Semua itu merupakan pengalaman yang benar-benar mengesankan di Musholla belakang rumah saya. Kebersamaan, saling membantu, rasa memiliki, semuanya terjadi begitu saja di musholla kami yang sederhana.
Namun, semua itu berubah drastis ketika saya masuk kuliah. Saya kuliah di Universitas yang berlatar belakang agama. Saya bertemu banyak sekali macam orang dengan berbagai macam pemikirannya. Beberapa masih berpikiran konservatif, bawaan dari pendidikan mereka di jenjang sebelumnya. Beberapa lagi ada yang sangat moderat, sekuler.
Tapi yang paling berpengaruh pada diri saya adalah mayoritas orang dan beberapa dosen yang terus menerus menyampaikan pemahaman agama yang mereka yakini, mereka mengatakan bahwa selama ini yang saya lakukan adalah SALAH!! Nyanyian-nyanyian yang saya praktekkan selama ini adalah satu bentuk bid'ah, penyembahan terhadap Dzat lain selain ALLAH. Mereka berdalih bahwa Rasullullah tidak pernah mengajarkan musik, nyanyian, dan pujian yang ditujukan pada beliau. Padahal DEMI ALLAH apa yang saya lakukan adalah murni sebagai bentuk penghormatan saya pada Rasullulah. Mereka berpendapat bahwa gerakan yang mereka lakukan adalah satu gerakan pemurnian Islam, mereka mengatakan bahwa Islam sudah tercampur dengan budaya lokal yang sarat akan ritual-ritual agama lain. Mereka bilang adalah tugas mereka untuk kembali pada gerakan puritan seperti yang sudah terjadi di belahan dunia lain.
Mendengar kata-kata mereka, saya seperti ditampar dengan sangat keras!! Rasanya, nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh orang tua, guru mengaji, ustadz di mushollah saya mereka cabut dengan sangat kasar. Saya benar-benar bimbang, apakah benar yang saya lakukan selama ini tidak ada manfaatnya sama sekali?. Apakah yang saya lakukan selama ini hanya menimbulkan dosa?
Sepertinya Allah saya telah dirampas oleh mereka.
Sekarang, saya malas pergi ke Musholla untuk Dziba'an. Teman-teman saya juga serupa. Pintu musholla sudah ditutup rapat dan semua lampunya dimatikan setelah sholat isya. Tidak ada lagi tawa anak-anak kecil. Tidak ada lagi rebutan makanan setelah lelah Dziba'an oleh mereka. Tidak ada lagi bunyi rebana yang dipukul. Yang ada hanya orang-orang tua, bertafakur dalam keheningan doa mereka sendiri. Entah sampai kapan musholla saya seperti ini.
Wednesday, March 23, 2011
Earth Hour 2011
Tanggal 26 Maret merupakan sabtu terakhir di bulan Maret, artinya kita merayakan lagi Earth Hour. Sesuatu yang menurut saya menarik untuk dilakukan. Kapan lagi seluruh warga dunia bersama-sama melakukan hal yang sama untuk tujuan yang sama. Beberapa mungkin tidak tahu hal tersebut. Normal saya rasa, karena sosialisai di media massa nasional masih sangat kurang, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya masih ingat tahun lalu saking seringnya himbauan untuk mematikan lampu, banyak orang yang mengira akan ada pemadaman listrik massal. Yang saya tahu, tahun ini hanya ada satu stasiun TV beberapa kali menayangkan himbuan untuk mematikan alat-alat listrik utamanya lampu selama satu jam mulai pukul 20.30 sampai 21.30. Namun sayangnya, pesan itu hanya ditayangkan tidak sampai 30 detik sehingga anjuran yang ingin disampaikan masih sangat absurd dan susah dimengerti.
Heran, mungkin media massa khususnya media elektronik menganggap menyampaikan pesan-pesan seperti tidak membawa keuntungan secara finansial bagi mereka. Tidak seperti stasiun TV internasional seperti National Geographic Channel Asia yang hampir setiap setengah jam menyampaikan pesan-pesan untuk berpartisipasi dalam peringatan Earth Hour tahun ini. Pesan juga dikemas dengan tampilan yang menarik, bukan hanya tulisan-tulisan yang sulit dibaca karena durasinya yang sangat pendek.
Harusnya kita bisa mencontoh negara lain yang berpartsipasi secara total. Amerika secara luas meliput "perayaan Earth Hour". Lampu menara Petronas dimatikan selama Earth Hour 2009. Beberapa stasiun TV siaran hanya dengan cahaya lilin dan LED selama satu jam. National Geographic berhenti mengudara dari pukul 20.30-21.30 pada Earth Hour 2010. Jika mereka bisa melakukan hal-hal besar seperti yang telah saya sebutkan, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mematikan lampu rumah kita selama satu jam sabtu depan.
Selain itu, kemampuan PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia juga masih terbatas. Bukankah jika kita menghemat listrik , secara tidak langsung kita juga memberi kesempatan untuk mereka yang belum terjamah listrik agar menikmati listrik.
Saturday, March 12, 2011
Surga itu Banyak
Banyak orang bingung beragama. Utamanya Islam. Mereka takut yang mereka lakukan tidak cocok dengan organisasi keagaaman lainnya. Setali tiga uang dengan organisasi-nya, mereka kadang seenaknya membid'ah apa yang orang lain lakukan. Si biru bilang, kalau begini itu tidak ada ajarannya, dosa. Si hijau bilang tidak dosa. Padahal kalo dilihat dari sejarahnya, dua organisasi besar itu muncul sama-sama sebagai gerakan revivalisme, gerakan pemurnian terhadap agama Islam yang sudah tercampur banyak budaya dan ajaran. Tapi kenapa malah bikin gesekan-gesekan di masyarakat kita. Tapi, untung saja kita belum pernah melihat konfrontasi diantara mereka berdua-semoga saja tidak akan pernah-. Masyarakat kita mayoritas masih dalam tipe eksklusivisme dalam memeluk suatu ajaran. Tipe yang menganggap ajaran yang dianutnya adalah yang paling benar. Lihat saja, beberapa orang masih sangat skeptis terhadap pemeluk agama lain, mereka mengganggap sangat aneh pada pemeluk agama lain, bahkan lebih parahnya tidak mau mendekati mereka. Dimana toleransi kita??
Bahkan yang lebih mengejutkan, saya punya teman yang dari TK sampai SMA dibina di sekolah berbasis agama. Tapi, dia sama sekali tidak pernah menunjukkan rasa hormat kepada pemeluk agama lain, sering malah dia mencemooh ritual agama mereka. Mungkin hal itu karena dia tidak pernah beinteraksi dengan pemeluk agama lain. Kadang saya pernah berpikir, apakah di sekolah dia tidak pernah diajarkan toleransi umat beragama di mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, atau memang dia yang tidak peduli pada pelajaran itu? Memang, hal ini bukan merupakan intepretasi total terhadap pendidikan berbasis agama kita, tapi paling tidak fenomena ini ada di sekitar kita.
Alangkah indahnya jika kita semua dalam meyakini sesuatu ada dalam tahap inklusivisme, atau bahkan akan lebih baik lagi bila pluralisme, mengganggap semua ajaran itu mengajarkan dan bertujuan sama. Mengajarkan suatu kebaikan, dan bertujuan pada kebenaran.
Untuk memudahkan semuanya, saya hanya menjalankan apa yang saya yakini itu benar dan tidak merugikan orang lain tanpa membawa panji biru, hijau, merah atau apapun lainnya.
Dan untuk lebih mudahnya lagi, saya berpikir jika surga itu ada banyak, surga untuk agama A, surga untuk agama B, surga untuk organisasi A, surga untuk organisasi B, jadi tidak perlu men-judge salah apa yang orang lain lakukan karena mereka akan masuk surga mereka masing-masing. Mudah, kan?
Wednesday, January 5, 2011
Surat Pada Tuhan
Dulu, kukira hidupku sempurna. keluarga terbina, teman berguna, uang bukan fatamorgana. Aku liar, bagai binatang. Tanpa sangkar, dan Kau kutantang. Tiap detik bermandikan dosa, sampai kurasa aku tak lagi punya asa, dan hidup bukan hanya sepenggal prosa, diatas itu semua ada yang lebih berkuasa.
itu Kau Yang Maha Esa.
Friday, December 31, 2010
Routinity
Matahari sudah puluhan menit memancarkan radiasi kalor
sedangkan aku masih memakai kolor
berangkat kuliah tak ubahnya penggalan film horor
menghisap karbon monoksida kendaraan bermotor
racun yang tak henti menebar teror
bersiap disilaukan sinar proyektor
menatap lekat 12 inch lcd monitor
polusi audio oleh dosen diktator
indoktrinisasinya berdesing serupa pelor
bising menelaah ocehan aktivis bermulut kotor
mereka lantang karena tak ada sponsor
padahal perubahan yang mereka usung hanya minor
aku hanyalah aktor
dari sandiwara rutinitas tanpa sensor
yang berputar berkali seperti rotor
sedangkan aku masih memakai kolor
berangkat kuliah tak ubahnya penggalan film horor
menghisap karbon monoksida kendaraan bermotor
racun yang tak henti menebar teror
bersiap disilaukan sinar proyektor
menatap lekat 12 inch lcd monitor
polusi audio oleh dosen diktator
indoktrinisasinya berdesing serupa pelor
bising menelaah ocehan aktivis bermulut kotor
mereka lantang karena tak ada sponsor
padahal perubahan yang mereka usung hanya minor
aku hanyalah aktor
dari sandiwara rutinitas tanpa sensor
yang berputar berkali seperti rotor
Saturday, December 25, 2010
Playlist
Hawa panas menyeruak memenuhi kamar ukuran 3x3, aku raja disini. raja dari buku-buku yang berserakan, raja dari gambar-gambar dengan pandangan kosong di dinding kamar, raja dari foto-foto masa kecil, raja dari televisi yang sedang mengoceh soal binatang di channel Badan Geografi Nasional Amerika, raja dari peta ekologi teluk Meksiko dan peta Pulau Jawa, raja dari macam-macam topi yang tergantung tidak rapi, raja dari kaos, flanel, hoodie dan celana yang berbulan-bulan bertengger di belakang pintu, raja dari laptop renta yang lirih mengalunkan beberapa lagu dengan bantuan Winamp 5.551. Paling atas, San Fransisco milik Scott Mckenzy. "If you're going to San Francisco, be sure to wear some flowers in your hair". Serasa terhempas kembali menuju era fashion paling "nyentrik". Ya benar!, tahun 70an, Flower Generation dengan rambut panjang terurai bebas, kaos celup warna warni, wanitanya tanpa bra, barefoot, headband, celana cutbray, Volkswagen Combi dan semangat anti perangnya.
Tersentak oleh "Oh, yeah. There's a red house over yonder". Ini Red House-nya Jimmy Hendrix!. Lagu yang katanya bisa jadi anestesi alami ketika operasi besar. Hmm... mendengar lagu ini seketika seperti kembali ke tahun 30-an. Nuansa gelap, Setelan jas hitam panjang, semua tampak seperti Al Capone. Menghisap dalam-dalam cerutu Kuba, asapnya menari di dinginnya malam kota Chicago. Tommy Gun tak pernah lepas dari genggaman, dengan setumpuk kokain di pojok ruangan. kata Jimmy Hendrix "I have a bad, bad feeling". Memang, tempat ini keras, tak bersahabat.
Berpindah ke Enya dengan Exile. Ahh.. mundur semakin jauh, jatuh di zaman pertengahan."Cold as the northern winds, in December mornings". Landscape eropa abad XII, pemandangan Negeri Dongeng, khas kastil dan naga. Kuda, baju zirah, pedang, perang, perang salib. Dibawah komando Richard I kami bergerak . Demi Gold, Glory, dan Gospel. "I'll find a way home. I will sail home to you." . Pulang.
Tersadar, kembali ke ruangan 3x3 yang pengap. Remang.
Wednesday, December 22, 2010
Something I have found in this wet Afternoon
Terbangun dari lelap karena ketukan tetes air di atap seng. Ah, inilah saat yang kutunggu 2 hari terakhir.
| es jeruk, tak peduli saat hujan atau panas |
| jemuran diangkat tepat sebelum hujan tiba |
| sisa yang belum kering |
Subscribe to:
Posts (Atom)
