Friday, September 14, 2012
Wednesday, September 12, 2012
"Kamu muslim?', "Sholat lima waktu?"
Sore itu saya yang kebetulan pengurus klub sepak bola peserta liga nasional sedang mengikuti seleksi pemain baru untuk menghadapi musim kompetisi yang akan datang. Peserta seleksi adalah para pemain muda lokal yang mungkin bermimpi menjadi Lionell Messi atau Beckham masa depan.
Kira-kira 45 menit sebelum seleksi usai, seorang warga negara asing datang. Tinggi, kurus dan wajahnya menunjukkan dia adalah ras arab. Tapi anehnya, dia cuma membawa tas palstik besar warna merah yang isinya sepatu dan kaos. Setelah berbincang sebentar dengan asisten pelatih, pemuda itu duduk dipingggir lapangan untuk mengganti sandalnya dengan sepatu. Saya tanya ke asisiten pelatih mau apa dia datang kesini. Asisten pelatih bilang kalu dia mau ikut seleksi. Secara postur saya benar-benar tidak yakin apakah dia mampu.
Kira-kira setelah setengah jam hanya duduk dipinggir lapangan, akhirnya dia dipanggil untuk ikut bermain. Benar dugaaan saya, secara kemampuan dia dibawah rata-rata pemain lainnya. Selama sepuluh menit bermain hanya beberapa kali memegang bola, itupun bisa dengan mudah direbut pemain lawan. Dia hanya menjadi bulan-bulanan penonton yang kecewa karena mungkin sudah berekspetasi untuk melihat permainan cantik seorang pemain asing.
Seleksi selesai pukul setengah enam, saya lihat dia berjalan keluar stadion sendirian. Karena kasihan, saya dekati dia untuk menawarkan tumpangan.
"Where will you go?" kata saya.
"Bhineka Hotel", dia menjawab.
"Let me accompany you"' saya sambil membuka pintu mobil.
"Thank you".
Hening kira-kira dua menit.
"What's your name?", saya membuka obrolan.
"Eden", jawabnya singkat.
"When you arrived in Gresik?" tanya saya.
"Today". kembali dijawab dengan singkat. Saya hanya menggangguk.
"Who are you?" gantian dia yang bertanya.
"I'm club staff". saya menjawab sambil tersenyum.
"Kamu lihat tadi saya main?" dia bertanya dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah.
"Ya, saya dipinggir lapangan" jawab saya dengan kecepatan pelan agar dia paham.
"Bagaimana saya main tadi?" tanyanya lagi. Ternyata bahasa Indonesianya lumayan.
Saya berpikir beberapa saat. "Not bad". ujar saya spontan.
"Kata pelatih saya kurang sprint". Dia menambahi.
"Ya, sepakbola Indonesia main keras" ucap saya dengan aksen bule.
Kami diam lagi, saya lihat dia sibuk dengan handphone-nya.
"Kamu darimana?" Saya kembali membuka percakapan.
"Perancis" lagi-lagi dijawab dengan singkat.
"Orang tua aseli Perancis?" Saya ingin tahu karena wajahnya campuran Arab.
"No, orang tua Aljazair." jawab dia dengan tersenyum.
"Wow, like Zidane." jawab saya menyebutkan legenda sepakbola Perancis, Zinedine Zidane yang juga keturunan Aljazair.
Dia tertawa.
Tepat ketika kami melewati Masjid Agung Gresik, adzan maghrib sedang berkumandang.
"Kamu muslim?" dia mengajukan yang membuat saya sedikit kaget.
"Ya." saya menjawab sambil tersenyum.
"Kamu sholat lima waktu?" dia kembali memberi pertanyaan sulit.
Saya tidak mau berbohong kepada dia, ataupun kepada Tuhan. Saya tidak menjawab, hanya tersenyum.
Wednesday, August 29, 2012
Meanwhile in Gresik
Kebetulan mengikuti prosesi Upacara Penuruan Bendera di Alun-Alun
Kota Gresik, tanggal 17 Agustus yang lalu. Ada yang menarik ketika
ditengah-tengah prosesi upacara yang selama ini kita kenal cukup sakral.
Seorang remaja tanggung, saya bilang tanggung karena memang
penampilannya serba nanggung, celana pendek, kaos oblong, sandal selop
yang tidak jelas bentuknya. Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan
peserta upacara lainnya yang memakai jas dan bapak-bapak aparat seperti
Polisi, TNI, dan Satpol PP pun berseragam lengkap. Tapi, kita tidak
boleh menilai seseorang dari penampilannya, bukan?. Dia menenteng kamera
DSLR. Sejauh pengamatan saya, sebelum upacara dimulai pun dia sudah
berada di sekitaran lokasi.
Ketika puluhan anggota pasukan
pengibar bendera sampai di tengah-tengah lapangan, tiba-tiba saja dia
mendekat, sangat dekat kemudian membidik mereka dengan kameranya, beberapa belas detik dia berada disana. Setelah puas, dia berlari begitu saja . Benar-benar mengganggu.
Hal yang sama terjadi lagi ketika prosesi penurunan bendera. Dia
tiba-tiba mendekat ke belakang seorang anggota Paskibra dan membidik
gambar dengan kameranya. Mengganggu dan mengurangi nilai kesakralan
sebuah upacara bendera. Sayang, tidak ada petugas pengamanan yang menegur dia.
Saya tahu maksud dia mendekat adalah untuk memperoleh gambar bagus.
Tapi, seharusnya dia menggunakan cara-cara yang 'terpuji' dan tidak
mengganggu orang lain.
Okultasi Jupiter
![]() | ||
| Jupiter Occultation (Photo taken on August 8th 2012 2:35 am) |
Saturday, July 7, 2012
Ilmu Pengetahuan Musuh Agama (?)
Ketika itu akhir tahun
2010, di Jogjakarta. Saya berada disana untuk mewakili kampus kecil
saya pada Kompetisi Bursa Saham Perguruan Tinggi Se-Jawa Bali di
salah satu universitas swasta.
Kala itu, Jogja
sedang berduka setelah meletusnya Gunung Merapi beberapa minggu
sebelumnya. Tapi sisa-sisa amukannya masih sangat mudah ditemui. Saya
masih ingat, tanaman di depan kamar hotel tempat saya menginap
dedaunannya masih tertutup abu. Lumayan tebal, sehingga ketika saya
menggoreskan ujung telunjuk saya di punggung daun, seketika jari saya
itu menjadi berwarna kelabu.
Kompetisi dimulai pada
jumat pagi, sampai kira-kira pukul sebelas siang karena bertepatan
dengan jadwal solat Jumat. Agak lama saya mencari masjid untuk solat
jumat, karena memang universitas tempat saya berlomba adalah
universitas kristen yang tentu saja tidak punya masjid.
Ketika berjalan, saya
berpikir, pasti tema khotbah jumat kali ini tentang bencana alam yang
baru-baru ini menimpa Jogja. Dan benar saja, khatib berceramah dengan
berapi-api menerangkan bagaimana kita sebagi umat Islam menerima
bencana yang datang dari Allah ini. Ada keterangan yang menarik
ketika khatib menyampaikan khotbahnya. Ketika itu, khatib membagi
golongan orang-orang berdasarkan bagaimana cara mereka memandang
suatu bencana alam yang datang dari Allah.
Dikatakan oleh
khatib tersebut, jika para ilmuwan, ahli geologi, ahli geografi
adalah golongan orang-orang tidak beriman
dan tidak bertuhan karena menghubungkan peristiwa gunung meletus ini
dengan ilmu pengetahuan seperti pergeseran lempeng tektonik,
peningkatan suhu kawah, ekskalasi kegempaan, atau lainnya. Disampaikan juga oleh khatib
tersebut jika seharusnya kita manusia harus menganggap semua yang terjadi di muka Bumi adalah kehendak Allah SWT. Intinya, semakin orang berilmu, semakin dia akan melupakan Tuhannya.
Seketika itu, saya ingin
teriak......
“Hey!! God create us
with biggest brain is for reasons!!”
“Tuhan punya alasan
kenapa kita diciptakan dengan volume otak paling besar daripada
makhluk hidup lainnya.”
Saya benar-benar tidak
setuju dengan pendapat khatib di majelis tersebut. Bagaimana mungkin
kita disebut tidak beriman jika kita berilmu pengetahuan.
Memang benar, kalau
semua yang terjadi di bumi datangnya dari Allah, dari Tuhan. Tapi
saya rasa kita juga harus belajar bagaimana segala sesuatu yang ada
di Bumi ini bisa terjadi, bukan? Kita punya otak untuk berpikir,
bukan? Kita harus belajar proses bukan? Bahkan Al-Quran diturunkan
juga melalui proses yang panjang selama 22 tahun 2 bulan 22 hari,
bukan langsung berbentuk kitab yang sudah terjilid rapi seperti tugas akhir mahasiswa. Sel sperma
dan sel telur pun harus menunggu selama sembilan bulan untuk bisa
menjadi manusia.
Memang, Allah bisa
dengan mudah, sangat mudah malahan
menciptakan segala sesuatu hanya dengan kalimat kun
fayakun. Tapi, akan sangat bodoh jika
kita menelan teori kun fayakun
itu secara mentah-mentah. Kita tetap harus belajar bagaimana sesuatu
bisa terjadi, tidak hanya mempasrahkan semuanya pada kalimat kun
fayakun.
Saya juga heran, selama ini yang dikupas dari Al-Quran "hanya" sebatas akhlak, aqidah, tata cara beribadah dan hal-hal semacamnya. Memang sih, itu yang esensial dari kehidupan beragam, tapi sesungguhnya Al-Quran menyimpan ilmu pengetahuan yang luar biasa. Teori big bang misalnya, baru ditemukan dalam beberapa puluh tahun kebelakang ini oleh ilmuwan modern. Ternyata teori tersebut sudah tercantum di Al-Quran sejak empat belas abad lalu!
Selain teori big bang, masih banyak lagi seperti teori evolusi makhluk hidup, anatomi tubuh manusia, susunan atssmosfer dan mungkin masih banyak lagi yang menunggu untuk ditemukan.
Pendapat saya, semakin orang berilmu pengetahuan, akan semakin paham bagaimana kebesaran Tuhan. Jadi, masih ada alasan untuk mengatakan jika orang yang berilmu pengetahuan itu tidak beragama?
Tuesday, May 29, 2012
"Kita Ini Umat Miskin!"
"Kita ini umat miskin!". Coba lihat, untuk membangun musholla saja kita harus "mengemis" minta sumbangan mulai dari rumah kerumah, membuka kotak amal di tengah jalan, memasang banner ukuran raksasa, sampai merekrut executive marketing berpeci yang kemana-mana membawa map dan amplop.
Tapi, coba perhatikan, siapa yang menjadikan pengusaha rokok kaya? Siapa yang menghabiskan uang jutaan rupiah untuk memenuhi udara kita dengan asap beracun? Siapa yang membeli makanan hanya untuk dibuang kembali? Jawabannya KITA, kan?
Tapi kenapa ada perbedaan yang mencolok seperti itu? Kenapa tidak ada kesadaran untuk bersedekah, kenapa tidak ada niatan untuk beramal jariyah? Kenapa orang melakukan ibadah (sedekah dan amal jariyah) harus jemput bola? Lalu siapa yang salah? Kita? atau malah panitia pembangunan musholla?
Saat ini, kita sudah tidak bisa lagi saling percaya. Kita sudah saling mencurigai.
Mungkin, kita tidak mau bersedekah karena sudah tidak lagi percaya pada mereka para panitia. Kita tidak tahu apa yang mereka lakukan dengan uang kita, dikemanakan uang kita? Apakah benar-benar untuk membangun musholla?
Tiap tahun, jelang Idul Fitri di media cetak dan elektronik pasti ditemukan berita, "Pembagian Zakat Ricuh, Sekian Orang Tewas Terinjak-Injak". Lalu muncul pertanyaan, kenapa para saudagar itu membagikan sendiri zakat mereka, kenapa tidak melalui Badan Amil Zakat resmi pemilik pemerintah? Jawabannya pasti sama, karena mereka tidak percaya pada lembaga-lembaga macam itu. Para saudagar itu lebih lega kalau mereka tahu siapa yang menerima zakat mereka.
Jika saja sistem manajemen sedekah, zakat, dan amal jariyah dikelola secara bersih, transparan dan profesional pasti kita tidak menjadi umat yang miskin. Kita tidak mengemis.
Tapi, coba perhatikan, siapa yang menjadikan pengusaha rokok kaya? Siapa yang menghabiskan uang jutaan rupiah untuk memenuhi udara kita dengan asap beracun? Siapa yang membeli makanan hanya untuk dibuang kembali? Jawabannya KITA, kan?
Tapi kenapa ada perbedaan yang mencolok seperti itu? Kenapa tidak ada kesadaran untuk bersedekah, kenapa tidak ada niatan untuk beramal jariyah? Kenapa orang melakukan ibadah (sedekah dan amal jariyah) harus jemput bola? Lalu siapa yang salah? Kita? atau malah panitia pembangunan musholla?
Saat ini, kita sudah tidak bisa lagi saling percaya. Kita sudah saling mencurigai.
Mungkin, kita tidak mau bersedekah karena sudah tidak lagi percaya pada mereka para panitia. Kita tidak tahu apa yang mereka lakukan dengan uang kita, dikemanakan uang kita? Apakah benar-benar untuk membangun musholla?
Tiap tahun, jelang Idul Fitri di media cetak dan elektronik pasti ditemukan berita, "Pembagian Zakat Ricuh, Sekian Orang Tewas Terinjak-Injak". Lalu muncul pertanyaan, kenapa para saudagar itu membagikan sendiri zakat mereka, kenapa tidak melalui Badan Amil Zakat resmi pemilik pemerintah? Jawabannya pasti sama, karena mereka tidak percaya pada lembaga-lembaga macam itu. Para saudagar itu lebih lega kalau mereka tahu siapa yang menerima zakat mereka.
Jika saja sistem manajemen sedekah, zakat, dan amal jariyah dikelola secara bersih, transparan dan profesional pasti kita tidak menjadi umat yang miskin. Kita tidak mengemis.
Wednesday, December 14, 2011
"Mahasiswa", Cuma Status Usang.
Cukup menarik, menurut saya. Si penulis nampaknya jenuh dengan pergerakan mahasiswa yang sekarang dianggap tidak ada lagi greget-nya. Dia membandingkan dengan berbagai peristiwa yang dilakukan para mahasiswa beberapa dekade yang lalu. Masa-masa pada akhir orde baru dan awal reformasi.
Membaca artikel tadi, saya langsung terbang pada masa ketika OSPEK, tiga tahun lalu. Beberapa orang aktivis, Pembantu Rektor, Dekan, dan masih banyak lagi meng-gembor gembor-kan kalimat: "Mahasiswa adalah agent of change!!", "Mahasiswa adalah agent of control!!", "Mahasiswa adalah agen perubahan!!" pada semua mahasiswa baru. Kami diperintahkan mengepalkan tangan kiri, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara seraya meneriakkan sumpah mahasiswa. Jujur saja, saya merinding waktu itu, merinding karena membayangkan bahwa tugas kita sebagai mahasiswa sangatlah berat. Selain belajar, kita juga harus "mengawal" jalannya negeri ini.
Saya merasa hal-hal khas mahasiswa diatas hanyalah euphoria sesaat. Para mahasiswa merasa jika status "mahasiswa" yang mereka sandang adalah status yang cukup agung di masyarakat. Karena itu, mereka akan berbuat sesuatu yang dianggap bermanfaat, demonstrasi untuk penurunan harga bahan pokok contohnya. Tapi, apa yang terjadi ketika para mahasiswa ini sudah lulus dan hidup mapan?? Apakah mereka akan tetap memperjuangkan keadilan masyarakat seperti ketika masih duduk di bangku kuliah?? Saya rasa jawabannya adalah mayoritas tidak.
Ratusan anggota legislatif kita yang sekarang duduk di kursi empuk dan bermobil mewah juga pernah mahasiswa, kan? Mereka dulu juga aktivis. Mereka dulu juga "doyan" unjuk rasa meneriakkan perubahan. Tapi, apakah mereka sekarang masih punya sikap ke-mahasiswa-an seperti dulu??
*foto diambil ketika penulis mengikuti aksi PERINGATAN 1 TAHUN PEMERINTAHAN SBY-BOEDIONO di depan kantor DPRD GRESIK
*foto diambil ketika penulis mengikuti aksi PERINGATAN 1 TAHUN PEMERINTAHAN SBY-BOEDIONO di depan kantor DPRD GRESIK
Friday, December 2, 2011
Gairah
| Di tengah-tengah kerumunan, seolah-olah saya bisa mencium bau adrenalin di udara. (Photo taken on November 5th, 2011 in Surabaya) |
Thursday, December 1, 2011
Sejarah Juga Mencatat
Kembar Artemis dan Apollo di Mitologi Yunani.
Kembar Romulus dan Remus di Mitologi Roma
Kembar Nakula dan Sadewa di Mitologi India
Ternyata, "spesies" kembar mendapatkan tempat khusus di sejarah dunia!
Saturday, November 26, 2011
Kitalah Parasitnya
(Kalimat ini saya tulis ketika marak pembantaian Orang Utan di hutan Kalimantan oleh para pemilik perkebunan kelapa sawit)
"Adalah biadab jika orang utan dianggap hama sehingga pantas untuk dimusnahkan. Tak perlu mencari-cari, manusia dan akalnya-lah yang sesungguhnya hama bagi seluruh makhluk di planet."
Subscribe to:
Posts (Atom)


