Wednesday, March 13, 2013

Otak itu Rumit

Manusia, spesies dengan ukuran otak terbesar diantara makhluk hidup lainnya yang sekarang masih beratahan di muka bumi. Diantara para primata, kitalah yang paling cerdas dibanding simpanse, gorilla, orang utan dan lainnya. Tapi kabarnya, dari semua kera besar yang pernah  hidup, Neanderthal-lah yang punya massa otak paling besar.
Otak, jaringan internet, dan sistem tata surya kita pada dasarnya punya susunan dan sistem yang sama. Sama rumitnya yang jelas. Kadang saya berpikir, bagaimana mungkin otak kita bisa menjadi sangat luar biasa, mengerjakan sesgala sesuatu dengan cara efektif, multi tasking, dan dalam waktu sangat singkat. Syaraf mengirim sinyal listrik setelah dengan kecepatan 120m/detik ke otak, setelah itu otak memproses, kemudian memutuskan hal apa yang harus dilakukan. Sebagai contoh, ketika tangan kita terkena api, syaraf di kulit akan mengirim sinyal listrik ke otak, kemudian otak menterjemahkan sinyal tersebut. Lalu dengan waktu yang sangat singkat pula memberi perintah untuk menjerit atau menarik tangan kita dari api misalnya. Hal itu dilakukan dengan waktu yang sangat singkat.
Contoh yang lebih rumit lagi. Ketika kita ada di tepi sebuah jalan, dan kita memutuskan untuk menyeberang ke sisi yang lainnya. Dari arah samping datang sebuah mobil. Dengan sangat akurat otak akan menghitung waktu yang kita butuhkan untuk menyebarang. Selain itu, dengan melihat mobil yang datang otak bisa memperkirakan kecepatan mobil tersebut. Setelah memperkirakan kecepatan mobil, otak juga akan mengestimasi waktu yang dibutuhkan oleh mobil untuk sampai ke tempat kita berdiri .  Setelah itu, otak kita kan memperkirakan jarak yang harus kita tempuh dan waktu yang dibutuhkan untuk menyebrang. Akhirnya, setelah perhitungan rumit diatas, otak akan memerintah kaki untuk bergerak dengan kecepatan tertentu agar kita bisa selamat ke seberang jalan tanpa tertabrak oleh mobil.

Bagaimana, multi-tasking  kan otak kita?

Saya memang bukan ahli fisika, hanya mendapat pelajaran fisika sampai di tingkat SMA. Tapi hal diatas bila dinalar juga bisa, kok.

Monday, March 11, 2013

Bagaimana jika........

Bagaimana jika Issac Newton  dulu tidak punya pohon apel, sehingga dia tidak pernah melihat apel jatuh dari pohonnya?

Bagaimana jika Alexander Fleming dulu membersihkan laboratoriumnya sebelum pergi berlibur, sehingga Penicillin tidak pernah ditemukan?

Bagaimana jika Archimedes dulu tidak mengisi bak mandinya terlalu penuh, sehingga dia tidak melihat air tumpah keluar ketika dia masuk kedalamnya?

Bagaimana jika Plato dan Aristoteles dulu tidak punya banyak waktu luang, sehingga dia  tidak sempat memikirkan hakikat kehidupan?

Bagaimana jika John Pemberton dulu lebih pintar, sehingga tidak ngawur ketika mencoba membuat obat sakit kepala?

Bagaimana jika Charles Darwin dulu tidak berkunjung ke Galapagos, sehingga tidak pernah mengamati paruh burung pipit?

Sudahlah, semua sudah terjadi bukan?

Tuesday, February 26, 2013

Olah Raga "Two in One"



Saya yang kebetulan bertugas menjadi photographer resmi sebuah klub sepakbola profesional untuk website-nya seringkali mengabadikan momen-momen yang sebenarnya "bonus" dari pertandingan sepakbola itu sendiri. 

Yang menarik, sepakbola di Indonesia mulai strata Gala Desa, Tarkam atau antar kampung, antar kelurahan, sampai tingkat professional sepertinya tidak bisa lepas dari cabang olahraga tarung bebas. Entah itu antar pemain, antar supporter, pemain dengan wasit, bahkan pemain dengan supporter. 

Saya sendiri, malah kadang gemas jika pertandingan sepakbola berjalan cukup fairplay. Sepertinya kok kurang menghibur. Hehehehehe......

( foto diambil oleh penulis ketika meliput pertandingan Indonesia Super League antara Persegres Gresik vs Mitra Kutai Kertanegara di Gresik, 8 Febuari 2013)

Friday, February 22, 2013

Saya Malu Jadi Orang Islam!!!

Hari ini dapat broadcast message di Blackberry Messengger yang cukup mengejutkan. Isinya berita tentang Paus Benediktus XVI yang katanya masuk Islam dan sholat di Turki. Seperti 90% broadcast message lainnya yang isinya cuma hoax murahan, tentu saja berita ini saya yakini juga berita tidak benar. Memang, beberapa waktu lalu Paus Benediktus menyatakan mengundurkan diri, yang saya tahu karena alasan usia dan kesehatan,  bukan karena tidak sesuai dengan keyakinannya apalagi sampai pindah agama. Setelah saya googling dari situs-situs yang terpercaya kebenarannya ternyata berita diatas benar-benar berita bohong.

Sebelum berita diatas kita juga pernah dikejutkan berita yang katanya Neil Armstrong masuk Islam setelah kepulangannya dari bulan. Diberitakan juga kalau ketika di bulan Neil Armstrong juga sempat mendengar suara adzan. Setelah ditelusuri, berita ini juga ternyata hanya berita bohong. Lalu yang belum lama ini ada Michael Jackson yang juga diperdebatkan "keislamannya", bahkan ketika menjelang pemakamannya ramai dibicarakan tata cara pemakaman raja pop itu. Dan mungkin kemudian para konservatif ini kecewa karena ternyata MJ sama sekali tidak dimakamkan dengan tata cara Islam.

Muslim, ada apa sih dengan kalian?. Apakah kalian minder dengan agama kalian sampai-sampai mendompleng nama besar Neil Armstrong dan Paus Benediktus  juga Michael Jackson untuk membesarkan agama kalian dengan membuat cerita bohong jika mereka masuk Islam?. Jadi seakan-akan agama kalian adalah agama pilihan tokoh penting dunia, begitu?.
Saya benar-benar tidak paham cara berpikir kalian.

Saat ini umat Muslim memang sedang mengalami krisis kepercayaan dihadapan masyarakat dunia. Tapi tidak perlu juga melalukan hal konyol semacam ini. Hal ini malah membuat kita semakin terlihat dungu dan ditertawakan oleh mereka.

Astagfirullahaladzim........
Saya ini juga muslim, tapi saya percaya kalau Islam sudah merupakan agama besar meskipun tanpa dianut oleh orang-orang penting.

Idola Baru di Inggris?

Masih perlukah audisi penyanyi di Inggris seperti Top Idol atau UK X-Factor?
Maksud saya, mereka sudah punya The Beatles, Queen, The Police, The Who, Coldplay, The Cure, Motorhead, Iron Maiden, Rolling Stones, Led Zeppelin, Pink Floyd, Sex Pistols, Keane, The Clash dan jangan lupakan Eric Clapton, dan Elton John, dan Bono. Juga ada Dragon Force, Judas Priest, Bring Me The Horizon, Asking Alexandria, Bullet for My Valentine, Black Sabbath, Lostprophets. Dan kalau masih beruntung ada BeeGess.
Jadi bagaimana warga Inggris?

Monday, October 1, 2012

Our GIGS These Days.

Apa yang mudah kita temukan ketika konser musik di tanah air belakangan ini? Penonton yang beringas dan mudah tersulut emosinya ketika hanya bersenggolan dengan penonton lainnya? Bukan. Anak-anak dibawah umur yang mengkonsumsi musik dan lirik yang belum cocok untuk mereka? Bukan juga.



Coba perhatikan kerumunan penonton di sebuah konser musik. Banyak dari mereka yang mengacungkan tangannya, tapi bukan untuk mengikuti irama musik ataupun melambai kepada artis yang ada di atas panggung, tapi mereka mengangakat gadget mereka. Mereka sibuk dengan merekam ataupun memotret. Mereka tidak lagi menikmati musiknya, mereka tidak lagi bernyanyi bersama, berdansa, ataupun membuat mosh pit.


Memang sih,  tidak ada yang salah dengan itu semua, tapi kan sayang kalau kita beli tiket mahal tapi tidak untuk menikmati pertunjukkan diatas panggung. Kita hanya sibuk mengarahkan handphone kita. Apalagi kalau jaraknya terlalu jauh dengan stage, hasil rekaman atau potretnya kan juga tidak terlalu bagus untuk dilihat lagi. 


Coba lihat konser musik di Glastonbury ataupun Woodstock Festival, hampir tidak ada penonton yang memotret ataupun merekam pertunjukkan diatas panggung dengan gadget mereka. Mereka menari dan bernyanyi bersama.
Memang sih, saya sendiri belum pernah datang ke dua acara tersebut, tapi paling tidak kan bisa lihat di TV atau YouTube. :D
 


Cuma ajakan, ayo kita bernyanyi bersama, ayo melompat bersama, ayo kita berteriak bersama, ayo kita pompa adrenalin kita. Jangan jadi anti-sosial!



(foto-foto diatas diambil penulis ketika Black Ocean Festival di Surabaya, 29 September 2012)

Wednesday, September 12, 2012

"Kamu muslim?', "Sholat lima waktu?"

Sore itu saya yang kebetulan pengurus klub sepak bola peserta liga nasional sedang mengikuti seleksi pemain baru untuk menghadapi musim kompetisi yang akan datang. Peserta seleksi adalah para pemain muda lokal yang mungkin bermimpi menjadi Lionell Messi atau Beckham masa depan. 
Kira-kira 45 menit sebelum seleksi usai, seorang warga negara asing datang. Tinggi, kurus dan wajahnya menunjukkan dia adalah ras arab. Tapi anehnya, dia cuma membawa tas palstik besar warna merah yang isinya sepatu dan kaos. Setelah berbincang sebentar dengan asisten pelatih, pemuda itu duduk dipingggir lapangan untuk mengganti sandalnya dengan sepatu. Saya tanya ke asisiten pelatih mau apa dia datang kesini. Asisten pelatih bilang kalu dia mau ikut seleksi. Secara postur saya benar-benar tidak yakin apakah dia mampu. 
Kira-kira setelah setengah jam hanya duduk dipinggir lapangan, akhirnya dia dipanggil untuk ikut bermain. Benar dugaaan saya, secara kemampuan dia dibawah rata-rata pemain lainnya. Selama sepuluh menit bermain hanya beberapa kali memegang bola, itupun bisa dengan mudah direbut pemain lawan. Dia hanya menjadi bulan-bulanan penonton yang kecewa karena mungkin sudah berekspetasi untuk melihat permainan cantik seorang pemain asing.
Seleksi selesai pukul setengah enam, saya lihat dia berjalan keluar stadion sendirian. Karena kasihan, saya dekati dia untuk menawarkan tumpangan. 
"Where will you go?" kata saya.
"Bhineka Hotel", dia menjawab.
"Let me accompany you"' saya sambil membuka pintu mobil.
"Thank you".

Hening kira-kira dua menit.

"What's your name?", saya membuka obrolan.
"Eden", jawabnya singkat.
"When you arrived in Gresik?" tanya saya.
"Today". kembali dijawab dengan singkat. Saya hanya menggangguk.
"Who are you?" gantian dia yang bertanya.
"I'm club staff". saya menjawab sambil tersenyum.
"Kamu lihat tadi saya main?" dia bertanya dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah.
"Ya, saya dipinggir lapangan" jawab saya dengan kecepatan pelan agar dia paham.
"Bagaimana saya main tadi?" tanyanya lagi. Ternyata bahasa Indonesianya lumayan.
Saya berpikir beberapa saat. "Not bad". ujar saya spontan.
"Kata pelatih saya kurang sprint". Dia menambahi.
"Ya, sepakbola Indonesia main keras" ucap saya dengan aksen bule.

Kami diam lagi, saya lihat dia sibuk dengan handphone-nya.
"Kamu darimana?" Saya kembali membuka percakapan.
"Perancis" lagi-lagi dijawab dengan singkat.
"Orang tua aseli Perancis?" Saya ingin tahu karena wajahnya campuran Arab.
"No, orang tua Aljazair." jawab dia dengan tersenyum.
"Wow, like Zidane." jawab saya menyebutkan legenda sepakbola Perancis, Zinedine Zidane yang juga keturunan Aljazair.
Dia tertawa.

Tepat ketika kami melewati Masjid Agung Gresik, adzan maghrib sedang berkumandang.
"Kamu muslim?" dia mengajukan yang membuat saya sedikit kaget.
"Ya." saya menjawab sambil tersenyum.
"Kamu sholat lima waktu?" dia kembali memberi pertanyaan sulit.
Saya tidak mau berbohong kepada dia, ataupun kepada Tuhan. Saya tidak menjawab, hanya tersenyum.

Wednesday, August 29, 2012

Meanwhile in Gresik

Kebetulan mengikuti prosesi Upacara Penuruan Bendera di Alun-Alun Kota Gresik, tanggal 17 Agustus yang lalu. Ada yang menarik ketika ditengah-tengah prosesi upacara yang selama ini kita kenal cukup sakral. Seorang remaja tanggung, saya bilang tanggung karena memang penampilannya serba nanggung, celana pendek, kaos oblong, sandal selop yang tidak jelas bentuknya. Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan peserta upacara lainnya yang memakai jas dan bapak-bapak aparat seperti Polisi, TNI, dan Satpol PP pun berseragam lengkap. Tapi, kita tidak boleh menilai seseorang dari penampilannya, bukan?. Dia menenteng kamera DSLR. Sejauh pengamatan saya, sebelum upacara dimulai pun dia sudah berada di sekitaran lokasi.
Ketika puluhan anggota pasukan pengibar bendera sampai di tengah-tengah lapangan, tiba-tiba saja  dia mendekat, sangat dekat kemudian membidik mereka dengan kameranya, beberapa belas detik dia berada disana. Setelah puas, dia berlari begitu saja . Benar-benar mengganggu. 





Hal yang sama terjadi lagi ketika prosesi penurunan bendera. Dia tiba-tiba mendekat ke belakang seorang anggota Paskibra dan membidik gambar dengan kameranya. Mengganggu dan mengurangi nilai kesakralan sebuah upacara bendera. Sayang, tidak ada petugas pengamanan yang menegur dia.


Saya tahu maksud dia mendekat adalah untuk memperoleh gambar bagus. Tapi, seharusnya dia menggunakan cara-cara yang 'terpuji' dan tidak mengganggu orang lain.


Okultasi Jupiter

Jupiter Occultation (Photo taken on August 8th 2012 2:35 am)

Foto diambil dari pekarangan Masjid di belakang rumah menjelang waktu sahur. Titik cerah kecil diatas bulan adalah planet Jupiter yang akan tertutup oleh bulan. Fenomena ini biasa disebut Gerhana Jupiter, karena Jupiter untuk beberapa saat akan tertutup oleh bulan.