"Kita ini umat miskin!". Coba lihat, untuk membangun musholla saja kita harus "mengemis" minta sumbangan mulai dari rumah kerumah, membuka kotak amal di tengah jalan, memasang banner ukuran raksasa, sampai merekrut executive marketing berpeci yang kemana-mana membawa map dan amplop.
Tapi, coba perhatikan, siapa yang menjadikan pengusaha rokok kaya? Siapa yang menghabiskan uang jutaan rupiah untuk memenuhi udara kita dengan asap beracun? Siapa yang membeli makanan hanya untuk dibuang kembali? Jawabannya KITA, kan?
Tapi kenapa ada perbedaan yang mencolok seperti itu? Kenapa tidak ada kesadaran untuk bersedekah, kenapa tidak ada niatan untuk beramal jariyah? Kenapa orang melakukan ibadah (sedekah dan amal jariyah) harus jemput bola? Lalu siapa yang salah? Kita? atau malah panitia pembangunan musholla?
Saat ini, kita sudah tidak bisa lagi saling percaya. Kita sudah saling mencurigai.
Mungkin, kita tidak mau bersedekah karena sudah tidak lagi percaya pada mereka para panitia. Kita tidak tahu apa yang mereka lakukan dengan uang kita, dikemanakan uang kita? Apakah benar-benar untuk membangun musholla?
Tiap tahun, jelang Idul Fitri di media cetak dan elektronik pasti ditemukan berita, "Pembagian Zakat Ricuh, Sekian Orang Tewas Terinjak-Injak". Lalu muncul pertanyaan, kenapa para saudagar itu membagikan sendiri zakat mereka, kenapa tidak melalui Badan Amil Zakat resmi pemilik pemerintah? Jawabannya pasti sama, karena mereka tidak percaya pada lembaga-lembaga macam itu. Para saudagar itu lebih lega kalau mereka tahu siapa yang menerima zakat mereka.
Jika saja sistem manajemen sedekah, zakat, dan amal jariyah dikelola secara bersih, transparan dan profesional pasti kita tidak menjadi umat yang miskin. Kita tidak mengemis.
Tuesday, May 29, 2012
Wednesday, December 14, 2011
"Mahasiswa", Cuma Status Usang.
Cukup menarik, menurut saya. Si penulis nampaknya jenuh dengan pergerakan mahasiswa yang sekarang dianggap tidak ada lagi greget-nya. Dia membandingkan dengan berbagai peristiwa yang dilakukan para mahasiswa beberapa dekade yang lalu. Masa-masa pada akhir orde baru dan awal reformasi.
Membaca artikel tadi, saya langsung terbang pada masa ketika OSPEK, tiga tahun lalu. Beberapa orang aktivis, Pembantu Rektor, Dekan, dan masih banyak lagi meng-gembor gembor-kan kalimat: "Mahasiswa adalah agent of change!!", "Mahasiswa adalah agent of control!!", "Mahasiswa adalah agen perubahan!!" pada semua mahasiswa baru. Kami diperintahkan mengepalkan tangan kiri, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara seraya meneriakkan sumpah mahasiswa. Jujur saja, saya merinding waktu itu, merinding karena membayangkan bahwa tugas kita sebagai mahasiswa sangatlah berat. Selain belajar, kita juga harus "mengawal" jalannya negeri ini.
Saya merasa hal-hal khas mahasiswa diatas hanyalah euphoria sesaat. Para mahasiswa merasa jika status "mahasiswa" yang mereka sandang adalah status yang cukup agung di masyarakat. Karena itu, mereka akan berbuat sesuatu yang dianggap bermanfaat, demonstrasi untuk penurunan harga bahan pokok contohnya. Tapi, apa yang terjadi ketika para mahasiswa ini sudah lulus dan hidup mapan?? Apakah mereka akan tetap memperjuangkan keadilan masyarakat seperti ketika masih duduk di bangku kuliah?? Saya rasa jawabannya adalah mayoritas tidak.
Ratusan anggota legislatif kita yang sekarang duduk di kursi empuk dan bermobil mewah juga pernah mahasiswa, kan? Mereka dulu juga aktivis. Mereka dulu juga "doyan" unjuk rasa meneriakkan perubahan. Tapi, apakah mereka sekarang masih punya sikap ke-mahasiswa-an seperti dulu??
*foto diambil ketika penulis mengikuti aksi PERINGATAN 1 TAHUN PEMERINTAHAN SBY-BOEDIONO di depan kantor DPRD GRESIK
*foto diambil ketika penulis mengikuti aksi PERINGATAN 1 TAHUN PEMERINTAHAN SBY-BOEDIONO di depan kantor DPRD GRESIK
Friday, December 2, 2011
Gairah
| Di tengah-tengah kerumunan, seolah-olah saya bisa mencium bau adrenalin di udara. (Photo taken on November 5th, 2011 in Surabaya) |
Thursday, December 1, 2011
Sejarah Juga Mencatat
Kembar Artemis dan Apollo di Mitologi Yunani.
Kembar Romulus dan Remus di Mitologi Roma
Kembar Nakula dan Sadewa di Mitologi India
Ternyata, "spesies" kembar mendapatkan tempat khusus di sejarah dunia!
Saturday, November 26, 2011
Kitalah Parasitnya
(Kalimat ini saya tulis ketika marak pembantaian Orang Utan di hutan Kalimantan oleh para pemilik perkebunan kelapa sawit)
"Adalah biadab jika orang utan dianggap hama sehingga pantas untuk dimusnahkan. Tak perlu mencari-cari, manusia dan akalnya-lah yang sesungguhnya hama bagi seluruh makhluk di planet."
Tuesday, November 22, 2011
Imperialisme Kebudayaan yang Terkenal itu Cuma Mitos?
Imperialisme kebudayaan atau penjajahan budaya, pernah populer tahun 50an ketika Bung Karno akhirnya merazia piringan hitam The Beatles, melarang artis-artis Indonesia tampil dengan busana dan gaya kebarat-baratan. Tapi, apakah benar apa yang disebut Bung Karno pada pidatonya "berdansa cha cha cha, bermusik ngak ngik ngok" itu sebagai penjajahan budaya?
Penjajahan, ya penjajahan. Kita pasti langsung berpikir pada sesuatu yang sifatnya kejam, eksploitasi habis-habisan, perbudakan, dan lain-lain macamnya. Memang sih, Kamus Besar Bahasa Indonesia kita tidak mencantumkan hal-hal yang saya sebutkan tadi dalam definisi kata "penjajahan". Tapi mindset kita sepertinya sudah lekat dengan persepsi tersebut. Apa karena "trauma" terhadap penjajahan di negeri ini yang berlangsung sampai 3,5 abad?. Dan jika itu semua adalah yang disebut penjajahan, apakah benar kita telah dijajah secara budaya oleh barat?
Budaya luar tidak pernah "dipaksa" masuk ke budaya kita. Kebodohan kita lah yang menerima budaya barat secara sukarela, lapang dada, tangan terbuka. Kita yang terus-terusan mengadopsi budaya mereka. Apakah hal ini masih bisa disebut penjajahan budaya? Saya rasa TIDAK! Inilah degradasi budaya oleh kita sendiri.
Padahal, jika kita mau berpikir secara filosofis, budaya barat sebenarnya punya banyak sekali nilai-nilai positif yang seharusnya bisa menjadikan kita manusia yang lebih baik. Tapi, selama ini kita hanya melihat dan meniru pada hal-hal yang kasat mata, hal-hal artifisial yang sesungguhnya hanyalah kulit atau pembungkus budaya tersebut. Sebagai contoh, banyak orang suka musik ska, tapi apa yang mereka sukai dari musik ska? Dansa-nya, kan? Padahal ska punya semangat anti rasialis. Lalu, banyak orang suka musik reggae, tapi apa yang mereka ambil? Bergoyang sambil berganja, kan? Padahal reggae punya semgat perjuangan. Begitu juga musik punk, dan budaya musik lainnya. Apa yang dilakukan oleh orang kita ketika plesir ke luar negri? Paling belanja sambil bersenang-senang. Mereka tidak pernah meneladani perilaku cinta kebersihan, disiplin, dan tertib yang dimiliki budaya barat.
Jadi, masih berpikir kalau penjajahan budaya itu benar-benar ada? Yang sebenaranya ada adalah penjajahan jati diri kita oleh kita sendiri, budaya barat cuma katalis yang kita gunakan untuk mempercepat kehancurannya.
Tuesday, October 25, 2011
Wayang budaya monokromatik? TIDAK!
Nek ono kyai ngarani wayang haram, gowonen mrene. Tak suweke cangkeme!
(Ki Enthus Susmono)
Hiruk pikuk sudah terlihat sejak selepas ashar. Beberapa pedagang mulai menata lapak. Terlihat ada puluhan lapak yang menjajakan berbagai macam barang mulai makanan sampai kebutuhan sehari-hari. Keramaian akan bertambah berlipat-lipat menjelang matahari terbenam. Sayup-sayup terdengar suara gamelan yang terputus-putus. Saya menebak kru pagelaran sedang melakukan check sound. Benar saja, ketika saya mendekat mereka sedang menyetel alat-alat dipimpin oleh dalang, Ki Enthus Susmono asal Tegal. Dalang 45 tahun ini adalah salah satu dalang terbaik yang dimiliki republik ini. Pernah mendapat gelar Doktor Honoris Causa di bidang seni budaya dari salah satu perguruan tinggi di Amerika, pernah mencetak rekor MURI karena menciptakan wayang kontemporer terbanyak yakni 1491 wayang dan masih banyak prestasi lainnya. Pagelaran sendiri akan dimulai sekitar pukul sembilan malam, kira-kira masih lima jam lagi. Saya kemudian pergi, berniat kembali lagi nanti, setelah Isya’.
Sudah gelap ketika saya kembali ke lapangan. Lampu-lampu sudah menyala. Lampu para pedagang, lampu warung makan, dan tentu saja lampu di panggung. Para tamu dan penonton berdatangan. Beberapa penonton terlihat membawa berbagai macam "perbekalan" seperti alas duduk dan sarung, maklum sore tadi hujan yang cukup deras mengguyur lapangan jadi udara cukup dingin dan lapngan jadi becek. Tapi hal itu sama sekali tidak mengurungkan niat para penikmat wayang.
Sekitar pukul setengah sembilan, pesinden dan panayaga atau para penabuh gamelan datang diteruskan para "Tamu Kehormatan" seperti bupati dan wakilnya, para pejabat dan para keluarga juragan juga datang. Rasanya seperti kembali pada masa jaman kerajaan-kerjaan di pulau Jawa dulu. Jaman ketika wayang pertama kali digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk dakwah. Ketika itu Jawa masih diperintah oleh bupati, demang, dan lurah. Rakyat jelata masih takut pada juragan tanah. Sama persis saya rasa, bupati, wakilnya, para juragan duduk di kursi empuk tepat di depan panggung, tetapi orang biasa duduk berhimpitan berbagi alas dengan koleganya diatas tanah. Bupati, wakilnya, dan para juragan terlindung dari udara malam yang menusuk karena dipayungi tenda, penonton biasa hanya dipayungi langit dan bintang yang berpendar. Cuma bedanya, kalau dulu para pejabat kemana-mana dengan kereta kuda, tetapi sekarang dengan mobil mewah.
Gamelan Kyai Abunawas milik Ki Enthus pemberian mantan presiden, Almarhum Gus Dur mulai mengalun pelan, menandai pagelaran akan segera dimulai. Sebelum dimulai, ditampilkan dulu Tari Remo oleh dua orang penari yang tidak bisa lagi disebut muda asal RRI Surabaya. Kurang lebih 20 menit mereka menari dengan sangat semangat. Sesekali mereka melontarkan guyonan yang disambut tawa dari para penonton.
Setelah basa-basi dari para penyelanggara, tepat pukul 21.50 segmen "Jejer" dimulai. Kalau dalam perfilman, ini adalah prolog, perkenalan para tokoh, disusul dengan kekisruhan-kekisruhan yang muncul. Dalang menggunakan tata bahasa yang mudah dimengerti, bahkan oleh saya yang sangat awam tentang bahasa jawa halus. Kritik-kritik terbuka terhadap kebobrokan negeri juga tak lupa disampaikan tetapi dengan kata-kata yang "menghibur". Menghibur adalah dengan kata "bangsat", "asu" dan kata-kata tabu lainnya. Lepas tawa dari penonton mendengar kata-kata "tak senonoh" tersebut.
Tengah malam segmen "Goro-Goro" dimulai, kali ini yang kebagian tugas mengocok perut adalah pelawak Marwoto asal Jogja. Ping-pong lawakannya dengan dalang membuat penonton merapat ke dekat panggung. Saya ingat, seorang ibu yang duduk di dekat saya berkata " Tambah bengi gak tambah sepi, tapi tambah marek nang ngarep", yang artinya kira-kira, semakin malam penontonnya tidak tambah sepi, tapi malah semakin merapat ke panggung. "Goro-Goro" diselingi nyanyian sinden asal Solo yang beberapa kali juga beradu guyonan dengan Marwoto.
Satu peristiwa yang menarik dan membuat "Gerrr" penonton adalah ketika sang sinden memanggil Bapak Bupati dan Wakilnya untuk naik ke atas panggung. Bapak Bupati dan Wakilnya sempat menjadi bahan bulan-bulanan lawakan Marwoto, tapi si bupati tidak diam saja, beliau membalas, membuat Marwoto sempat kehilangan kata-kata. Si dalang nyeletuk "Eh, Bupatine yo ternyata rodok gendeng!", sontak lepas tawa dari para penonton dan undangan.
Di tengah pertunjukan saya sempat berjalan-jalan untuk sekedar melemaskan otot akibat terlalu lama duduk. Saya melihat-lihat para penjual yang menjajakan barang dagangan mereka. Beberapa orang berjualan sesuatu yang ada "relevansi"-nya dengan pertunjukkan wayang. Tapi, tak sedikit juga yang berjualan barang yang saya rasa cukup aneh. Seperti contohnya, seorang yang membuka lapak terapi lintah. Terapi ini katanya bisa meningkatkan gairah seksual. Anehnya, atau mungkin uniknya, disamping bertoples-toples lintah dipajang, dia juga memajang gambar-gambar yang vulgar, atau malah cenderung pornografi. Saya sebenarnya ingin mendokumentasikan hal tersebut. Tapi setelah saya tengok si terapis, beliau adalah seorang berbadan tegap dengan tatto di lengannya, saya menyingkir saja.
Goro-Goro berakhir pukul dua pagi. Si dalang kemudian masuk pada segmen perang. Prabu Bapa, tokoh antagonis, bertarung melawan tokoh protagonis, saya lupa nama tokohnya. Bisa ditebak, Prabu Bapa kalah. Pertunjukaan diakhiri dengan teriakan gembira para rakyat, "Prabu Bapa mati!!, Prabu Bapa mati!!"
Setelah segmen perang selesai, Marwoto kembali naik ke atas pentas, sedikit melawak lagi, diikuti sinden-sinden yang bernyayi beberapa lagu, pukul 03.20 pertunjukkan selesai. Ya, selesai! Tapi tidak bagi saya, masih ada 70 km berkendara di pagi buta untuk sampai ke rumah dan istirahat.
Sekitar pukul setengah sembilan, pesinden dan panayaga atau para penabuh gamelan datang diteruskan para "Tamu Kehormatan" seperti bupati dan wakilnya, para pejabat dan para keluarga juragan juga datang. Rasanya seperti kembali pada masa jaman kerajaan-kerjaan di pulau Jawa dulu. Jaman ketika wayang pertama kali digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk dakwah. Ketika itu Jawa masih diperintah oleh bupati, demang, dan lurah. Rakyat jelata masih takut pada juragan tanah. Sama persis saya rasa, bupati, wakilnya, para juragan duduk di kursi empuk tepat di depan panggung, tetapi orang biasa duduk berhimpitan berbagi alas dengan koleganya diatas tanah. Bupati, wakilnya, dan para juragan terlindung dari udara malam yang menusuk karena dipayungi tenda, penonton biasa hanya dipayungi langit dan bintang yang berpendar. Cuma bedanya, kalau dulu para pejabat kemana-mana dengan kereta kuda, tetapi sekarang dengan mobil mewah.
| Gunungan |
![]() |
| Beda generasi |
Gamelan Kyai Abunawas milik Ki Enthus pemberian mantan presiden, Almarhum Gus Dur mulai mengalun pelan, menandai pagelaran akan segera dimulai. Sebelum dimulai, ditampilkan dulu Tari Remo oleh dua orang penari yang tidak bisa lagi disebut muda asal RRI Surabaya. Kurang lebih 20 menit mereka menari dengan sangat semangat. Sesekali mereka melontarkan guyonan yang disambut tawa dari para penonton.
![]() |
| Gamelan Kyai Abunawas |
| Tembang Pembuka sebelum pertunjukkan dimulai |
![]() |
| Penari Remo |
Tengah malam segmen "Goro-Goro" dimulai, kali ini yang kebagian tugas mengocok perut adalah pelawak Marwoto asal Jogja. Ping-pong lawakannya dengan dalang membuat penonton merapat ke dekat panggung. Saya ingat, seorang ibu yang duduk di dekat saya berkata " Tambah bengi gak tambah sepi, tapi tambah marek nang ngarep", yang artinya kira-kira, semakin malam penontonnya tidak tambah sepi, tapi malah semakin merapat ke panggung. "Goro-Goro" diselingi nyanyian sinden asal Solo yang beberapa kali juga beradu guyonan dengan Marwoto.
| Marwoto menunggu giliran tampil |
| Wayang Gayus ditampilkan dintengah-tengah pertunjukan |
| Dalang |
Di tengah pertunjukan saya sempat berjalan-jalan untuk sekedar melemaskan otot akibat terlalu lama duduk. Saya melihat-lihat para penjual yang menjajakan barang dagangan mereka. Beberapa orang berjualan sesuatu yang ada "relevansi"-nya dengan pertunjukkan wayang. Tapi, tak sedikit juga yang berjualan barang yang saya rasa cukup aneh. Seperti contohnya, seorang yang membuka lapak terapi lintah. Terapi ini katanya bisa meningkatkan gairah seksual. Anehnya, atau mungkin uniknya, disamping bertoples-toples lintah dipajang, dia juga memajang gambar-gambar yang vulgar, atau malah cenderung pornografi. Saya sebenarnya ingin mendokumentasikan hal tersebut. Tapi setelah saya tengok si terapis, beliau adalah seorang berbadan tegap dengan tatto di lengannya, saya menyingkir saja.
| Penjual replika wayang |
Goro-Goro berakhir pukul dua pagi. Si dalang kemudian masuk pada segmen perang. Prabu Bapa, tokoh antagonis, bertarung melawan tokoh protagonis, saya lupa nama tokohnya. Bisa ditebak, Prabu Bapa kalah. Pertunjukaan diakhiri dengan teriakan gembira para rakyat, "Prabu Bapa mati!!, Prabu Bapa mati!!"
![]() |
| Segmen Perang |
| Behind the Scene, dalam arti sebenarnya |
Setelah segmen perang selesai, Marwoto kembali naik ke atas pentas, sedikit melawak lagi, diikuti sinden-sinden yang bernyayi beberapa lagu, pukul 03.20 pertunjukkan selesai. Ya, selesai! Tapi tidak bagi saya, masih ada 70 km berkendara di pagi buta untuk sampai ke rumah dan istirahat.
Sunday, October 2, 2011
Monkasel-Malam Minggu
Dari seorang teman yang mengajak ke sebuah gigs, saya akhirnya berangkat ke selepas maghrib. Hanya berempat, ya berempat, karena kesibukan teman-teman yang lain dan beberapa juga tidak sependapat atau miungkin lebih tepatnya tidak cocok dengan guest star yang manggung jadi hanya berempat.
Sedikit bingung ketika sampai di tempat karena si penjual tiket "bersembunyi" dibalik pagar. Penjual tiket adalah dua orang wanita dengan pakaian serba hitam dan sedikit terbuka memperlihatkan tatto di pundak dan punggung sebelah kanan atas. Saya rasa, "gaun" yang tidak cocok untuk cuaca berangin malam itu. Masuk ke venue harus lewat barikade besi yang dijaga empat orang betubuh gempal, mereka memeriksa tiket dan men-stempel leher kami sebagai tanda masuk. Ya, kami masuk... Semerbak bau alkohol menusuk hidung. Wajar.
Venue berbentuk seperti amphitheater dengan panggung setinggi 30cm panjang sekitar 20 meter dan lebar 3 meter. Tempat duduk lima tingkat setengah lingkaran menegelilingi stage. Semuanya dilapisi porselen. Tenda satu slop berada tepat di tengah stage, menaungi alat-alat musik. Lampu warna kuning, biru, dan merah menyala bergantian.
Band-band pembuka beraliran keras bergantian tampil. Sesekali moshpit terbentuk. Beradu badan, siku, membabi buta. Vokalis mengepalkan jari-jari, menghunus ke udara, memukul udara kosong, belasan atau bahkan ratusan kali. Lantai panggung sepertinya terlalu licin bagi sepatunya, beberapa kali dia hampir terpeleset. Dia mencoba memvariasikan aksi panggungnya dengan gerakan menari rock 'n roll padahal lagunya sangat jauh daru nuansa rock 'n roll. Beberapa kali juga penonton yang mungkin terpengaruh alkohol bertindak tidak "fair play" sehingga memicu peretengkaran kecil, tapi panitia dan penonton lainnya tampaknya terlalu sigap mengantisipasi sehingga tidak sampai menjadi masalah yang cukup besar.
Menoleh ke arah pintu masuk, semakin ramai saja para penonton yang memadati tempat itu, didominasi para pria dengan kaos hitam dan flannel.
Jam sembilan lewat, guest star pertama band grindcore asal Bandung, Rajasinga, mulai check sound. Mereka memainkan sekitar 8 atau 10 lagu dengan cukup memukau. Di sela-sela lagu, mereka cukup komunikatif dengan para penonton dengan mencoba mengucapkan "jancok" walau masih tetap dengan aksen sunda yang kental.
Setelah Rajasinga, band lokal Surabaya yang mencoba menghibur. Saya duduk di sebelah kanan panggung menghadap ke penonton. Menyalakan rokok. Di akhir lagu ketiga, seseorang dengan microphone diatas panggung mengeluarkan kata-kata provokatif yang memicu emosi penonton. Tidak jelas siapa dia. Tapi dari tempat saya duduk terlihat dua orang melemparkan rokok ke arahnya dengan meneriakkan kata-kata yang sama provokatifnya. Yang diatas panggung turun, perkelahian besar terjadi. sekitar 25 orang terlibat. Panitia berlarian mencoba menghalau massa yang lain yang mencoba "ikut campur". Di speaker terdengar ajakan untuk menghentikan perkelahian. Tapi rupanya kurang ditanggapi mereka yang asyik dengan kegiatnnya itu. Setelah dua menit mereka berhenti.
Tiba-tiba, seorang dengan atribut punk merebut mic yang dibawa panitia, dengan lantang dia berkata menolak guest star kedua, Jeruji, untuk tampil. Dia mengatakan Jeruji adalah band kapitalis yang tidak pantas untuk manggung di Surabaya. Dari gerak-geriknya sanagat terlihat kalau dia dalam pengaruh alkohol yang akut. Vokalis Jeruji yang sudah siap "menghajar" para penonton dengan lagu-lagunya pun mau tidak mau harus "meladeni" pria itu. Dia membela diri. Dia mengatakan bahwa Jeruji bukanlah band kapitalis. Setelah mendapat persetujuan, Jeruji akhirnya diperbolehkan memulai lagu pertama. Setelah lagu pertama, pria itu kembali berulah, mengambil mic kemudian begumam tidak jelas. Vokalis Jeruji terlihat sangat kesal dengan perilaku pria itu. Beberapa panitia yang geram mencoba menurunkan dia dari atas panggung agar tidak ada kericuhan lagi. Penampilan Jeruji diakhiri dengan lagu Respect.
Setengah sebelas malam, saya pulang.
Yang menjadi pikiran saya, bagaimana pria dengan atribut punk itu berkata anti-kapitalis, tapi dia menggunakan produk-produk negara kapitalis. Coba cek, hanphone apa yang dia pakai. Saya berani menjamin dia memakai hanphone produksi negara kapitalis. Dia pasti lebih bangga bila memakai celana jins buatan negara kapitalis seperti Amerika contohnya.
Setengah sebelas malam, saya pulang.
Yang menjadi pikiran saya, bagaimana pria dengan atribut punk itu berkata anti-kapitalis, tapi dia menggunakan produk-produk negara kapitalis. Coba cek, hanphone apa yang dia pakai. Saya berani menjamin dia memakai hanphone produksi negara kapitalis. Dia pasti lebih bangga bila memakai celana jins buatan negara kapitalis seperti Amerika contohnya.
Sunday, July 10, 2011
Memaksa Tuhan
Tadi malam kita ikut pengajian. Sesuatu yang sudah jarang kami lakukan. Sepanjang pengajian tidak ada hal yang istimewa. Pada akhir pengajian, Sang Pemimpin pengajian membacakan doa penutup dan para jamaah mengamini sebagai tanda "menyetujui" apa yang diminta Sang Pemimpin pada Tuhan. Kita mendengar dan melihat ada satu, dua, tiga, empat, lima orang melafadkan kata AMIN dengan keras, cenderung membentak. Seolah olah mereka memaksa Tuhan untuk mengabulkan do'a mereka. ANEH. LUCU.
Thursday, June 16, 2011
Gerhana Bulan Tadi Pagi
| 1:04 AM |
| 1:41 AM |
| 1:51 AM |
| 2:07 AM |
| 2:17 AM |
| 2:29 AM |
| 2:32 AM |
| 2:34 AM |
| 2:59 AM |
Fotonya diambil dari lapangan di depan rumah. Kita udah nunggu mulai jam 10 malam sama temen-temen kuliah yang emang ada rapat suksesi PEMILU Presiden BEM. Rumah kita emang sering dijadiin tempat ngumpul mereka. Minimal tiga kali seminggu.
Karena udara Gresik yang belakangan ini cukup dingin pas malam hari, akhirnya kita putusin untuk menenggak minuman beralkohol buat sedikit angetin badan.
Jam satu malam kita udah gelar karpet di tengah lapangan sambil bawa selimut dan bantal.
Yaaahh, karena keterbatasan lensa kamera yang kita punya, hasilnya nggak maksimal, tripodnya juga goyang gara-gara floor-nya ga rata. Tapi lumayanlah ada dokumentasi gerhana bulan paling lama dalam 100 tahun terakhir. Bisa buat cerita ke anak cucu.
Sayangnya, kita nggak sempet ngambil gambar pas detik-detik berakhirnya gerhana gara-gara ketiduran.
Sayangnya, kita nggak sempet ngambil gambar pas detik-detik berakhirnya gerhana gara-gara ketiduran.
Subscribe to:
Posts (Atom)




